‎KECOMBRANG/HONJE



‎Di usia pernikahan yang udah belasan tahun, Alhamdulillah Pak Suami masih rajin beliin bunga. Kalo dulu beli mawar atau chrysanthemum, sekarang, in this economy, belinya kalo ngga kembang kol, brokoli, ya kecombrang. Bunga juga kan yaaa, wkwkw.

‎Khusus kecombrang ini ngga bisa sering-sering beli karena emang nyarinya susah. Sebenernya kuliner Jogja bisa dibilang ngga mengenal kecombrang sama sekali. Bahkan aku tau kecombrang juga belum lama, mungkin baru 5 tahun terakhir ini. Sekali nyoba, langsung suka.

‎Ngga semua orang suka kecombrang karena aromanya memang ngga biasa. Wangi, langu, sengir, tergantung siapa yang merasakannya. Makanan-makanan beraroma kuat seringkali memicu reaksi yang ekstrem. Ada yang suka banget, ada yang ngga suka banget. Sama kayak jengkol, pete, durian.

‎Jogja ngga mengenal kecombrang. Setahuku, kecombrang dikenal di hidangan-hidangan daerah Banyumas dan ke barat: masakan Sunda, Betawi, dan Melayu, juga Minang.

‎Awalnya aku ngga nyangka kalo kuliner Minang juga pakai kecombrang, karena kita ngga akan menemukannya di warung nasi Padang atau nasi Kapau. Tapi pas nyicip singkong tumbuknya RM Padang Pagi Sore, jelas banget ada hint aroma dan rasa kecombrang. Tipis, tapi yang suka banget sama kecombrang langsung tau. Ternyata kecombrang juga dikenal di kuliner Minang, tapi tampil sebagai bumbu, seperti daun kunyit dan bumbu pendukung aroma lain. Tidak tampil sebagai tokoh utama seperti di kuliner Sunda.

‎Seperti sebagian besar bunga, bisa dibilang bunga kecombrang cukup cantik. Warna pink ke marun. Kalau memandangnya hanya sebagai bunga, rasanya ngga terlalu sulit untuk menyukainya. Tapi sebagai bahan hidangan, ada yang sangat suka, ada yang ngga tahan dengan aromanya.

‎Pun kita sebagai manusia yang utuh, setiap kita pasti punya hal-hal baik yang bisa kita tawarkan ke orang lain. Di saat yang sama, ada juga sisi-sisi kita yang menuntut orang lain untuk menoleransi. Mungkin kita toxic, mungkin juga ngga semua orang sanggup menerima kita. Ada yang toleransinya tinggi lalu memilih bertahan, ada yang memilih menghindar. Dan itu gapapa banget.

‎Yang penting, kita ngga pernah menyengaja berbuat salah atau menyakiti. Kita cuma perlu menjadi pribadi yang otentik. Ngga perlu memaksa diri menyesuaikan dengan apa pun dan siapa pun. Mereka yang menerima kita dengan tulus akan bertahan di kehidupan kita; jika mereka memilih pergi, mungkin itu hal yang paling sehat untuk semua.

‎Jadi kalo misal kalian ngga suka kecombrang, ngga papa banget. Masih banyak warung lain yang bisa jadi pilihan kalo pas mau nraktir aku 😅😅😅

‎Yogyakarta, 7 Januari 2026
‎007/365

‎Foto AI generated.
‎Ngebayangin kecombrang jadi buket atau bunga meja kayaknya cantik juga wkwkk

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top