(Dari mantan pendukung Prabowo 2 pilpres sebelumnya)
Salam Sejahtera Pak Prabowo. Semoga Bapak selalu sehat.
Saya adalah salah satu pendukung Bapak pada 2 pemilu yang lalu, dan sangat menghormati Bapak. Saya sering mendengar tentang kecerdasan Bapak dari dosen saya dulu di Unhan yang satu letting dengan Bapak saat di Akmil. Sampai hari ini pun saya menaruh respek yang besar pada Bapak dalam berbagai hal. Hanya saja memang saya ada preferensi pilihan lain untuk pilpres periode ini. Meski demikian saya merasa Bapak punya kans yang sangat besar untuk memenangi kontestasi kali ini. Seperti biasa, calon-calon yang saya dukung, bahkan sejak pertama saya punya hak pilih, itu jarang menang. Jadi kalau kali ini saya tidak lagi dukung Bapak, mungkin salah satu pertanda kans Bapak yang sangat besar itu. Mungkin.
Surat ini saya tulis beberapa hari menjelang Pemilu. Ada hal yang ingin saya sampaikan jika Bapak memenangi pilpres kali ini. Semoga surat ini bisa sampai di tangan tim Bapak suatu saat nanti.
Meski saya tidak mendukung Bapak dalam ajang pilpres nanti, tapi sebagai warga negara yang sangat mencintai bangsa ini, saya berjanji akan mendukung presiden terpilih nanti, siapapun itu, dengan cara saya sendiri: menjadi warga yang baik, mendukung program pemerintah yang baik, dan memberikan masukan jika ada kebijakan atau program yang mungkin kurang sesuai, dengan cara sebermartabat mungkin dengan memanfaatkan semua jalur yang memungkinkan. Tolong pastikan jalur-jalur itu ada Pak, karena pada kepemimpinan Jokowi, khususnya periode ke dua di mana Bapak menjadi Menteri Pertahanan, rakyat merasa ditinggalkan, tidak ada ruang untuk mengekspresikan perbedaan akibat bergabungnya tim Bapak ke kabinet Jokowi, sehingga Pemerintah dan Legislatif nyaris satu suara, yang kadang-kadang suara rakyat tidak didengar.
Tapi kali ini bukan itu yang ingin saya bahas. Yang menjadi concern saya adalah program makan siang gratis yang selalu bapak ulang-ulang yang menurut pandangan saya pribadi kurang pas. Mohon Pak, mohon dengan sangat jika Bapak benar-benar terpilih nanti, mohon untuk dipertimbangkan lagi. Ada beberapa pertimbangan yang membuat saya berfikir program itu kurang tepat untuk APBN kita saat ini.
1.Permasalahan apa yang ingin dijawab dari program itu?
Kalau yang ingin Bapak jawab dari program makan siang di sekolah itu adalah masalah gizi buruk, sesungguhnya jalan keluar dari gizi buruk ataupun stunting tidak cukup hanya dengan memberi makan satu kali sehari. Akar masalah dari gizi buruk adalah kemiskinan, ketimpangan, kurangnya edukasi, stigma, isu kesehatan dan lain sebagainya yang tidak perlu saya jelaskan satu per satu di sini. Teman-teman di kemensos dan Bappenas sudah fasih dengan itu semua. Dan akar permasalahan gizi buruk itu semua tidak bisa diselesaikan “hanya” dengan memberi makan sekali sehari pada anak usia sekolah. Tentu saja saya percaya pada penyusunan program nanti tentu akan ada program-program mengatasi permasalahan gizi buruk dan stunting, tapi karena program bapak adalah mengatasi gizi buruk dengan program makan siang untuk siswa, maka saya berasumsi bahwa makan siang itu bagi bapak adalah jalan keluar utama, sedang yang lain sifatnya hanya pendukung saja.
Padahal, kita juga masih punya anak yang tidak pergi ke sekolah (salah satunya karena sangat misikin), yang bisa jadi terlewatkan dari program ini karena tidak terhitung sebagai siswa. Ada juga siswa yang terdaftar tapi tidak hadir secara fisik karena peserta paket. Pada akhirnya menjadikan program ini sebagai program yang inklusif dan setara bagi seluruh warga baik yang bisa akses pendidikan ataupun tidak menjadi tidak mudah. Yang susah semakin susah, yang miskin makin ngga dapet.
2.Sasaran program
Kalau dari publikasi yang saya baca, program ini nantinya akan menyentuh 82 juta siswa sebagai sasaran penerima makan siang gratis di sekolah. Mohon maaf ini ya Pak, kalau tujuannya mengatasi permasalahan gizi buruk, jumlah penduduk dengan status gizi buruk kita “hanya” 17 juta dan itu ngga semuanya merupakan penduduk usia sekolah. Kalaupun misal 17 juta itu adalah siswa sekolah yang sudah berstatus gizi buruk, lalu kita asumsikan sekitar 3 juta siswa lagi hampir buruk dan harus diperhatikan gizinya untuk mencegah menjadi gizi buruk, berarti 20 juta siswa saja yang sebenernya layak dan membutuhkan bantuan berupa makanan tambahan. Jika yang benar-benar membutuhkan dukungan hanya 20 juta, lalu dianggarkan untuk 82 juta, menurut saya itu penghamburan yang nyata Pak. Sayang sekali. Daripada memberi makan satu kali ke 20 juta orang yang membutuhkan dan 60 juta orang yang tidak benar-benar membutuhkan, lebih baik fokus di 20 juta orang itu dengan perencanaan dan pengendalian yang sebagus-bagusnya agar tepat sasaran dan berdampak baik dan terukur. By name by address dan diukur status gizinya dengan benar, sehingga kalau bisa ya 1-2 tahun saja program ini berjalan, kalau sampai tahun ke 5 masih butuh ngasih makan ya tandanya programnya gagal.
3.Anggaran
Sebagaimana yang disampaikan tim Bapak, program ini akan membutuhkan 450T dalam setahun. Woow itu jumlah yang sangat buwessar. Jika dengan asumsi APBN saat ini (yang 3 ribu sekian trilyun), program ini akan menghabiskan 15% dari keseluruhan anggaran, dan ITU BELUM MENYENTUH AKAR MASALAHNYA. Artinya, untuk benar-benar menuntaskan soal gizi buruk, setelah mengeluarkan 450T Bapak masih harus mengeluarkan Ber T T yang lain untuk benar-benar membuat warga Indonesia bebas dari gizi buruk. Sayang banget ngga sih Pak uangnya. Coba fokus di 20 juta penerima program yang memang sangat-sangat butuh dikeluarkan dari situasi gizi buruk, sisa anggarannya bisa buat beli alpahan Pak. Kalau Bapak fokus di 20 juta warga layak mendapat bantuan makanan mengatasi gizi buruk, Alih-alih merogoh APBN 450T, Bapak hanya akan butuh 110T saja. Sisa 340T bisa digunakan untuk beli Kapal Induk kayak USS Gerald R. Ford itu masih turah turah, susuk (nyisa) 56 T, bisa dipake buat beli Lockheed Martin F-35B dapet 25 biji itu Pak, apa ngga pingin punya Alpahan sekeren itu??? Itu baru anggaran setahun lho, kalo rencana Bapak Gizi Buruk Tuntas dalam 3 tahun, tinggal dikali 3 aja Pak.
4.Implementasi
Ini teknis sih, tapi penting juga untuk jadi pertimbangan. Implementasi teknisnya susah Pak. Tidak semua sekolah memiliki standar hygiene yang layak untuk membagikan makanan di sekolah. Artinya sarpras fisik juga harus didukung untuk keperluan ini (anggaran meneeeeh). Kemudian, memberikan bantuan dalam bentuk barang (inkind) juga rawan kebocoran, gratifikasi, pengadaan yang tidak adil, dan lain sebagainya. Belum lagi soal selera dan alergi. Pihak sekolah harus memastikan tidak ada siswa yang terancam kesehatannya karena mengkonsumsi makanan yang tidak bisa dia makan, mislanya karena lactosa intolerance dll. Ya kalo bisanya sih bisaaaa tapi sistem pengendalian juga harus dipersiapkan dengan matang.
Kemudian capaiannya juga harus terukur. Tahun ini siswa siapa saja yang masuk kategori gizi buruk dan hampir buruk? Bulan depan bagaimana status gizinya, apakah membaik? Data ini harus dimiliki di sekolah, jika perlu masuk dalam pangkalan data peserta didik, yang datanya sewaktu-waktu bisa di tarik angka nasionalnya kayak apa. Jangan sampai programnya cuma berhenti di bagi-bagi makanan saja tanpa terukur implikasinya gimana ke pengurangan angka gizi buruknya.
Perlu diperhatikan juga keamanan pasokan pangan termasuk diversifikasi menu supaya tidak mengganggu rantai pasok. Bayangkan kalau dalam waktu bersamaan, kebutuhan susu nasional melonjak sangat tajam karena program bapak mulai diimplementasikan. Gimana kalo ngga mencukupi? Impor? Waduh.
Sejauh ini saya baru bisa memberikan masukan, untuk mempertimbangkan kembali program bapak itu. Belum ada saran bagaimana cara yang lebih baik mengatasi gizi buruk selain program bagi bagi makan siang untuk siswa sekolah. Tapi Insya Allah lain waktu nanti saya tuliskan. Ngga papa lho pak, punya pendekatan program yang berbeda dengan apa yang Bapak rencanakan saat kampanye, itu hal yang lazim terjadi jika niatnya untuk hal yang baik. Nanti kalau ada yang koar koar mengatakan Bapak tidak menepati janji, sampaikan secara transparan apa pertimbangan Bapak melakukan perbaikan perencanaan. Yang pasti, jika Bapak terpilih, tolong ya Pak, tolong, beri ruang pada rakyat untuk menyampaikan masukan, kritik atau ketidaksetujuan. Sudah ada DPR yang seharusnya menjalankan fungsi itu, tapi Bapak juga harus pastikan fungsi itu berjalan dengan baik.
Sehat selalu ya Pak…
Cheers!
Yogyakarta, 12 Februari 2024
Siti Markhamah
markhamah@gmail.com
Warga negara yang baik walaupun pernah bikin SIM pake nembak.
Sekali doang sih tapi 2 SIM langsung. Udah taubat sekarang.