Ada pergeseran yang berarti terkait budaya jajan di luar bagi orang Jogja (dan mungkin kebanyakan orang Jawa) belakangan ini. Seingatku dulu pas aku masih bocil, jajan di luar atau ngiras itu hal yang nggak ilok dan memalukan. Ada pandangan bahwa jajan itu pertanda males masak atau boros. Jadi, ada rasa malu kalo lagi jajan di tempat terus ketemu tetangga. Dalam konteksku, hal ini makin memalukan karena saat itu kami bukan orang ada dan banyak nerima santunan dari sodara². Ngga berani banget jajan di warung. Saru kalau kata orang dulu.
Bukan saja stigma jajan yang kurang bagus, pilihan menu saat itu pun ngga sebanyak sekarang. Restoran yang proper hanya dimasuki orang kaya. Orang biasa bisa dibilang ngga pernah menyengaja pergi ke resto kecuali dalam keadaan darurat, menjamu tamu, atau sedang dalam perjalanan. Pilihan jajan merakyat pun terbatas; palingan cuma bakso, soto, bakmi Jawa, dan mungkin nasi kucing (angkringan) yang mulai bertebaran di awal 90-an.
Sebenernya, pergeseran soal jajan ngga sesederhana itu. Budaya jajan dan ngga masak dipengaruhi juga oleh banyaknya perempuan yang memilih bekerja di luar, sehingga tugas memasak akhirnya dialihkan ke warung-warung. Stigma istri “nggak mau masak” pun udah ngga sekejam dulu. Kini, orang makin santai untuk jajan di luar tanpa merasa bersalah. Bahkan menjadi cara untuk quality time bersama keluarga. Seneng kalo bisa keluar makan bersama orang serumah.
Budaya jajan juga ngga lagi soal makan doang, tapi pengalaman. Konsep makan sebagai experience, bukan sekedar kenyang, mungkin dimulai ketika gerai fast food pertama kali dibuka di Jogja pada awal 90-an. Saat itu, makan ngga cuma soal kenyang, tapi juga untuk menuntaskan rasa penasaran; kaya apa rasa ayam crispy yang disajikan dengan kentang.
Kini, experience yang ditawarkan tempat jajan pun makin sophisticated. Bukan hanya makanannya, tapi juga penyajian, ambiance, hospitality, hingga amenities seperti toilet yang wangi, tempat sholat, koneksi internet, colokan melimpah, hingga private room untuk rapat atau nge-zoom.
Tempat-tempat makan bersih dengan fasilitas terawat sekarang pun bukan lagi monopoli orang kaya. Orang biasa juga bisa menikmati leisure seperti itu. Sesekali. Selebihnya, mereka kembali ke tempat jajan yang memang menyasar orang biasa. Tempat yang kalau orang ada jajan di sana, mereka sampai minta ditotal dua kali untuk memastikan apakah harganya benar-benar semurah itu.
Sebab nyatanya, di antara gemerlap kafe yang jumlahnya melebihi jumlah RT, di Jogja selalu ada tempat-tempat sempit dan berdesakan untuk sekali makan ga sampe sepuluh ribu. Entah bagaimana penjualnya bisa kasih segitu. Mungkin karena tenaga sendiri tidak dihitung atau jangan-jangan mereka emang ngga nyari untung. “Bathi sanak” kata orang.
Di Jogja memang ada tempat-tempat makan yang super mewah. Tapi juga selalu ada warung-warung sederhana yang melayani orang orang biasa. Atau melayani orang-orang miskin yang kalo menurut standar Bank Dunia adalah mereka yang pengeluarannya di bawah 2 dolar sehari. Namun, menurut versi warung nasi dan angkringan, orang miskin yang mereka layani adalah orang yang mengambil gorengan lima, tapi mengaku tiga, wkwkkw.
Yogyakarta, 6 Januari 2026
006/365
In pict: Ngiras Ndas Manyung di Bu Fat Semarang, years ago