Saat masih bocah, akses terhadap buku nggak segampang bocah-bocah zaman sekarang. Pas aku kecil, selain buku anak-anak terbatas banget, buku termasuk barang mewah yang nggak semua orang punya. Apalagi buku anak-anak, nggak semua orang tua ngebelikan. Tapi soal baca buku, kalau dipikir-pikir aku termasuk orang yang beruntung banget dibanding anak-anak seusiaku saat itu.
Yang pertama karena ibuku suka read aloud, buku apa pun. Satu-satunya buku anak yang aku punya saat masih bocah adalah buku 25 Nabi karya Buya Hamka, yang selalu diawali dengan “Cucu-cucuku…”. Buku itu sudah aku punya dari aku belum bisa baca dan dibacain oleh ibuk. Memang aku cuma punya buku itu, tapi yang ibuku baca nggak cuma itu. Semua buku yang lagi ibu baca akan dibaca dengan suara keras dan aku ikut mendengarkan, baik itu Riyadhushalihin, Siroh Nabawy, atau artikel-artikel di majalah yang dipinjam lewat Mabulir.
Mabulir ini juga privilege yang aku miliki sebagai warga Kauman, meski nggak semua warga Kauman menikmati ini. Mabulir adalah Majalah dan Buku Bergulir yang dikelola Mbah Dauzan. Mbah Dauzan dari pintu ke pintu menawarkan majalah dan buku untuk dipinjam, dan berjanji minggu depan akan menukar dengan buku yang lain. Gratis, nggak ada denda, bahkan jika kita nggak sengaja numpahin kopi di buku yang kita baca. Biasanya Mbah Dauzan akan menggabungkan dua majalah dalam satu bundelan, majalah agama dan umum, misal kayak Suara Muhammadiyah dan majalah Panasea atau Trubus. Walaupun sepanjang ingatanku nggak ada buku anak yang pernah dipinjam, tapi ada artikel yang ibuku bacakan, dan persepsi terhadap buku dan kegiatan membaca.
Privilege lain buat aku terkait buku adalah Perpustakaan Masjid Gedhe Kauman yang mulai diaktifkan akhir 80-an kalau nggak awal 90-an. Aku masih SD dan menjadi pengunjung tetap walaupun buku anak nggak banyak. Tentu saja bukan salah perpusnya, karena memang saat itu belum banyak buku anak, belum ada KKPK kayak sekarang. Buku yang sering aku pinjam adalah kumpulan penceritaan kembali cerita klasik Hans Christian Andersen, buku cerita bergambar. Kadang ke perpus cuma memperpanjang pinjam buku itu aja, sambil baca koran KR di bagian “Sungguh-sungguh Terjadi” atau SST dalam sepekan di KR Minggu, wkwkwk.
Meski sepanjang masa bocil cuma punya buku 25 Nabi Buya Hamka, tapi bacaan nggak kurang-kurang karena punya teman yang dimanjakan dengan buku oleh orang tuanya. Yang pertama Una, Aninditya Rahma Purnasari, Allahuyarham. Koleksi komiknya unlimited, dari Serial Cantik, Mari Chan, Pansy, Doraemon, Sailor Moon, Cherry, Kung Fu Boy, Break Shot, Samurai X, Inuyasha, dan lain-lain, semua pernah kupinjam. Pinjamnya boleh bertumpuk-tumpuk, sekalian satu seri sampai tamat. Itu akhir 80-an awal 90-an ya. Nggak semua orang tua beliin buku anak, bukan soal kaya atau enggak, tapi cara pandang orang tua zaman dulu terhadap buku anak nggak kayak sekarang.
Meskipun banyak orang tua yang nggak ngijinin anak baca komik karena dianggap unfaedah, tapi buat aku sendiri komik itu pintu masuk buat suka baca, paham alur cerita, dan jadi hiburan alternatif secara dulu kami nggak mampu beli TV. Jadi komik-komik Una itu mewarnai banget masa kecil aku, khususnya urusan perbukuan. Makasih ya, Un. Semoga kamu damai di sana.
Selain Una, teman lain yang ikut mewarnai perbukuan masa bocilku adalah Meika Hazim. Kalau rak buku Una penuh dengan komik dan majalah Bobo, koleksi Meika banyak novel dan cerita mini terjemahan yang mirip-mirip karya Enid Blyton. Tapi Lima Sekawan juga ada sih. Jadi kalau ke rumah Meika itu serasa di surga, karena nggak cuma bisa pinjam buku, tapi juga sering dijajanin sama ibuknya Meika 😁.
Dulu buku susah diakses, harus ada effort untuk bisa baca buku. Sekarang buku ada di mana-mana, effort-nya cuma kasih waktu lebih untuk membaca. Nyimpen HP beberapa waktu. Tapi ternyata nggak segampang itu. Karena yang kita lawan sekarang bukan keterbatasan, tapi distraksi. Itu kalo aku sih wkwk.
Jangan tanya buku apa yang terakhir aku baca udah lama ngga baca buku 😅
(Nunggu buku ke 3 Al Masih Tasaro GK)
Yogyakarta, 5 Januari 2026
005/365