Belakangan aku menikmati vertical minidrama, dan nggak malu mengakui kalau aku nonton drama-drama kayak gitu, wkwkwk. Walaupun penikmat short drachin sering diolok-olok dan dianggap selera rendah, aku nggak apa-apa.
Banyak orang malu mengakui kalau mereka nonton drachin, karena selama ini drachin dianggap sebagai hiburan kaum pinggiran yang suka menghalu: tiba-tiba dia adalah anak CEO yang tertukar, atau suaminya yang satpam ternyata seorang konglomerat yang menyamar. Sek, sek. Suamiku yo satpam dan aku nonton drachin, tapi tenang ajaa, aku nggak sampai ngehalu jangan-jangan dia sebenarnya konglomerat, wkwkwk.
Drachin vertikal mulai populer sekitar tahun 2020-an. Saat itu memang ceritanya didominasi kisah CEO, bayi yang tertukar, ONS karena diobatin, dan cerita absurd lain. Tapi percaya atau nggak, makin ke sini makin worthy buat ditonton, dan nggak semua ceritanya tentang konglomerat jatuh cinta pada orang biasa.
Memang kalau mau menikmati drachin, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Pertama, lower your expectations. Banyak keabsurdan, baik dari ide cerita maupun kualitas scene-nya. Jadi ya harus toleran dengan kualitas pengambilan gambar dan suara, makeup yang kadang ngedempul, dan detail-detail teknis lain yang jauh dari standar drama mainstream.
Kedua, selektif milih drama. Karena memang ada yang benar-benar sampah: kebanyakan yapping, ceritanya nggak jelas, dan muter-muter. Nggak semua tentu, tapi cukup banyak yang kayak gitu.
Setelah beberapa bulan terjerumus di dunia perdrachinan, kalau boleh dibilang makin ke sini kualitasnya juga makin oke. Ceritanya mulai lebih beragam dan nggak melulu absurd. Memang kualitas sinemanya masih jauh dari drama mainstream, tapi cukup buat ngasih hiburan ringan.
Buat yang belum terjerumus ke perdrachinan vertikal, bisa mulai dari series ini: Summer Rose (ada di iQIYI, judul di platform lain mungkin berbeda).
Series ini memenangkan beberapa penghargaan, dan pemerannya juga dapat beberapa awards. Jadi buat yang mau murtad dari drama mainstream ke drama vertikal, bisa mulai dari sini, wkwkwk.
Kalau aku sendiri, nonton drachin lebih fokus ke jalan cerita. Tapi pemeran utamanya juga harus cakep dan cantik, ini syarat utama 😄. Syarat lainnya, pemerannya nggak mirip orang yang nggak kusuka di dunia nyata, wkwkwk. Jangan sampai niat cari hiburan malah dapat negative vibes, ya kan.
Pemeran dari drama ini adalah Liu Xiaxiu dan Guo Yuxin. Dua pemeran ini menurutku cukup selektif memilih peran, jadi sebagian besar drama yang mereka perankan juga cukup bagus.
Drama ini bercerita tentang seorang perempuan fotografer yang pemberani, petualang, berjiwa bebas, penuh kepercayaan diri, dan seolah sanggup menaklukkan apa saja: Bai Qingmei. Meski di luar tampak sekeren itu, dia punya trauma besar terhadap cinta. Cinta membuatnya ketakutan karena pengalaman ibunya yang sangat mencintai suaminya tapi dikhianati sampai akhirnya bunuh diri. Trauma itu bikin alam bawah sadar Bai Qingmei mengaitkan cinta dengan penderitaan, bahkan kematian.
Makanya dia dengan mudah menerima perjodohan dengan Zhou Sheng An, orang yang nggak dia kenal dan nggak ada perasaan apa-apa. Tapi Zhou Sheng An terlalu green flag dan susah buat nggak jatuh cinta. Begitu menyadari dirinya jatuh cinta pada Sheng An, Bai Qingmei langsung memutuskan pertunangan dan malah taarufan (eh kok taarufan ya, macam ukhti aja, wkwk) dengan cowok brengsek yang senggolan aja dia jijik. Menurutnya, menikah dengan orang yang tidak dia cintai adalah cara paling efektif untuk melindungi dirinya.
Zhou Sheng An harus menghadapi perasaannya sendiri: dicampakkan, kebingungan, dan tetap memilih memperjuangkan.
Cerita ini menjawab kebingungan banyak orang yang pernah disikapi hot and cold, di-ghosting, dan semacamnya. Banyak orang yang ketakutan dengan cinta; semakin dalam rasanya, semakin kencang dia lari. Buat kalian yang pernah digituin, percayalah masalahnya nggak selalu ada di kalian. Semua orang layak dicintai secara jujur dan terbuka.
Terkait Bai Qingmei dan Zhou Sheng An, honestly speaking, rasa insecure itu memang sering jadi biang kerok berbagai tindakan toxic. Mau itu dalam urusan relationship, karier, pendidikan, dan lain-lain.
Di satu sisi pengin bilang, nggak usah terlalu cemas, karena setiap orang punya sisi insecure, hanya levelnya beda-beda. Tapi di sisi lain juga pengin bilang, berkacalah. Karena mungkin dalam relationship, kehidupan sosial, tempat kerja, atau tempat belajar, kitalah biangnya. Bisa jadi insecurity kita malah membawa toxic ke orang-orang di sekitar kita, bahkan ke orang yang paling kita sayang.
Insecurity kalau dibawa ke relationship bisa jadi avoidant, kayak Bai Qingmei. Takut dengan perasaan sendiri, takut nggak bisa punya perasaan yang setara, nggak percaya sama pasangan, dan lain-lain. Tapi insecurity dalam relationship juga bisa melahirkan tindakan toxic yang tak terduga, seperti perselingkuhan oleh orang-orang yang haus pembuktian bahwa dia bisa dicintai banyak orang, dan itu sedikit menaikkan kepercayaan dirinya.
Insecure di tempat kerja kadang bikin persaingan yang nggak sehat, sabotase, atau malah nggak berani mengambil tindakan proaktif.
Nggak ada cara khusus untuk menghilangkan rasa insecure, karena setiap manusia unik, dan penyebab insecure juga berbeda-beda tiap orang.
Tapi menurutku skill yang paling berguna untuk mengatasinya adalah kemampuan menilai diri sendiri secara objektif. Nggak underestimate, nggak overestimate. Nggak denial kalau habis melakukan kesalahan, tapi juga nggak selalu menyalahkan diri sendiri.
Untuk bisa mengenal diri sendiri secara objektif, ya perbanyak teman dari berbagai jenis manusia: profesi, tingkat ketebalan dompet, pendidikan, etnis dan budaya, agama, dan lain-lain. Main sejauh-jauhnya. Kalau nggak bisa datang ke tempat-tempat yang jauh secara fisik, ya lewat bacaan, lewat tontonan. Menurutku gitu sih. Kalau nggak sepakat juga nggak apa-apa, karena sebenarnya ini tadi cuma ngomongin drachin. Nggak usah terlalu serius, wkwkwk.
Yogyakarta 1 Januari 2026
001/365
(Late Post)