Apakah kamu memiliki sesuatu atau seseorang yang kamu cintai dan jaga sedemikian rupa karena mereka menyimpan cuilan jiwamu? Yang kalau mereka tak ada lagi, jiwamu pun tak lagi utuh? Mungkin kamu punya Horcrux!
Hal paling brilliant dari keseluruhan cerita Harry Potter menurut aku adalah Horcrux. Konon, untuk membuat dirinya abadi dan nggak gampang dikalahkan, Voldemort memecah jiwanya dan menitipkan sebagian cuilan jiwanya itu ke tujuh benda pusaka. Dia baru akan benar-benar hancur jika ketujuh benda yang menyimpan serpihan jiwanya itu musnah.
Horcrux pada umumnya berupa barang yang dijaga dengan sangat rapi, dan kalau bisa jangan sampai ada musuh yang tahu benda atau makhluk apa yang menyimpan serpihan jiwa tersebut. Karena kalo ketahuan, apalagi kalo benda itu jatuh ke tangan musuh, bisa jadi ambang kehancuran. Itulah ironi dalam hidup: sesuatu yang kita anggap sebagai kekuatan, pada saat yang sama juga bisa menjadi titik terlemah kita. Silly but true.
Voldemort dengan sangat sadar menitipkan serpihan jiwanya ke tujuh benda pusaka, tentu paham betul dengan segala risikonya. Tapi selain disengaja, Horcrux juga bisa terbentuk tanpa disadari. Voldemort nggak pernah menyangka serangan Avada Kedavra-nya pada Harry bukan saja gagal karena perlindungan kasih sayang seorang ibu, tapi justru berbalik menyebabkan jiwanya yang sudah retak terbelah lagi, dan sebagian serpihannya berpindah ke Harry, menjadikan Harry sebagai Horcrux yang tak dia sadari.
Analogi Horcrux dalam kehidupan kita para muggle adalah ketika kita begitu dalam mencintai sesuatu, atau seseorang, dan menyelipkan cuilan jiwa kita pada hal-hal yang kita cintai itu, sampai-sampai jika mereka tak ada lagi, jiwa kita tak lagi utuh. Horcrux para muggle bisa berupa harta, pangkat dan jabatan, peliharaan, atau orang-orang yang kita sayangi sepenuh hati.
Sebagaimana Voldemort, kita bisa dengan sangat sadar menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai Horcrux. Tapi juga bisa tanpa sadar. Kadang kita baru sadar sudah menitipkan secuil jiwa kita pada sesuatu setelah sesuatu itu tak ada lagi. Setelah sepersekian jiwa kita menghilang, baru kita menyadari.
Seperti Voldemort, kita mungkin menyangka Horcrux-horcrux itu yang membuat kita kuat. Yang membuat kita menjadi muggle yang berarti, dihormati. Horcrux mengelevasi kepercayaan diri kita. Tapi Horcrux para muggle pun tak jauh beda dengan Horcrux-nya Voldemort. Mereka bisa menjadi sumber kekuatan, sekaligus titik terlemah kita.
Menurutku, memiliki Horcrux bagi muggle yang normal adalah suatu keniscayaan. Karena Horcrux-horcrux itulah yang membuat hidup terasa lebih hidup. Tapi belajar dari Voldemort, penting bagi kita untuk membuat Horcrux dengan sangat sadar: seberapa banyak cuilan jiwa yang kita titipkan padanya, dan seberapa besar effort yang kita curahkan untuk menjaganya agar tetap ada. Kendali ada di tangan kita sendiri.
Jangan sampai kita menguras seluruh jiwa kita dan meletakkan semuanya pada Horcrux, sampai kita kehilangan kendali atas diri sendiri. Karena Horcrux bisa hilang kapan saja—bisa diambil, berubah, atau pergi. Bahkan bisa berbalik menyerang kita, sebagaimana Harry Potter akhirnya menyerang Voldemort.
Semoga apa pun yang terjadi pada kita ke depannya, dan pada Horcrux-horcrux kita, jiwa kita akan selalu utuh.
Yogyakarta, 2 Januari 2026
002/365
(Late post)