β
βAku lahir di RSU PKU Muhammadiyah yang di Jl KHA Dahlan Yogyakarta. Rumah sakit pertama yang dimiliki Muhammadiyah dan didirikan tahun 1923. Rumah sakit itu didirikan saat masih jaman penjajahan Belanda. Saat itu, Ide pribumi membuat rumah sakit agar orang miskin mendapat pelayanan kesehatan, dianggap ide gila. Bahkan oleh kolega sendiri, Kyai Sudja’ ditertawakan saat menyampaikan gagasan itu. Tapi Perkumpulan Muhammadiyah saat itu memang perkumpulannya orang-orang yang “ora umum”, outlier tapi dalam hal-hal yang luar biasa. Oh iya ngga hanya lahir di PKU Muhammadiyah, hampir seluruh perawatan kesehatanku ada di saana kecuali saat ada di rantau. Termasuk pas lairan Farhan. Jadi dilahirkan dan melahirkan di RS yang sama wkwkwk.
β
βSimbah buyut aku Muhammad Sangidu konon katanya yang mengusulkan nama “Muhammadiyah” kepada Kyai Dahlan. Katanya juga beliau adalah pemilik nomor baku anggota Muhammadiyah nomor 1. Aku sendiri bikin NBM tahun 1999 dengan nomor baku 857.718. jauh sekali ya jaraknya dengan Mbah Sangidu. Itupun ngga semua pendahulu dicantumkan nomor anggotanya ya. Soal nomor anggota 1 ini aku juga belum cek. Besok minta tolong Pak Wakidi untuk cekΒ apa benar pemilik nomor baku nomor 1 itu Kyai Sangidu π
β
βSimbah Putriku, Mbah Umniyah konon adalah salah satu perintis TK ABA Bustanul Athfal yang saat itu dikelola oleh Siswo Proyo Wanito yang sekarang dikenal dengan nama Nasyiatul Aisyiyah. Bapak juga aktif di Muhammadiyah. Beliau Sekjen Pemuda Muhammadiyah sekitar awal 60han. Menulis lirik Mars Pemuda Muhammadiyah yang lama (jangan tanya kenapa PM anak HW aku yo ngga tau wkkwkw) dan juga nulis salah satu Mars Muktamar Muhammadiyah. Kurang tau yang mana ya, mungkin yang ke 41 di Surakarta atau yang sebelumnya kami ngga punya catatannya, hanya berdasarkan ingatan ibukku. Karena pas Muktamar Surakarta (1985) bapak sudah berpulang. Beliau berpulang tahun 1983. Bapak juga menulis banyak artikel (dulu wartanwan) dan buku, yang banyak disitasi orang tapi aku belum pernah pegang dan baca bukunya βCikal Bakal Sekolah Muhammadiyahβ kalau ada yang punya bolehlah pinjam untuk dicopy.
β
βSebetulnya aku jarang cerita tentang Mbah-mbah dan Bapak aku karena malu, disparitas kualitas di generasi ke empat ini kok sudah sebegitu jauhnya. Unfortunately, aku ngga punya kualitas sekeren Mbah2 dan Bapak aku dalam berMuhammadiyah. Ya meski aktif di Muhammadiyah, tapi kontribusinya B aja sayangnya. Malah aku kadang melakukan beberapa kesalahan yang merepotkan teman-teman pegiat Muhammadiyah yang lain, dan kadang merasa menjadi semakin ngga layak nyebut leluhur yang mungkin kecewa kalo tau penerusnya kayak gini. Untuk rekan-rekan siapapun yang pernah merasa kerepotan karena tindakanku mohon maafkanlah dan ikhlaskanlah.
β
βTumbuh dan mendewasa di Kauman Yogyakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah, sudah pasti berMuhammadiyah dong. Pas SD ikut TS di Kauman, sampai sabuk kuning melati 3 lho, tapi setelah itu ngga lanjut. Perkaderan formal di ortom pertama aku adala Darul Arqom Nasyiatul Aisyiyah tahun 1996. Sebenernya kalo menurut AD ART Nasyiah saat itu umur aku belum masuk umur Nasyiatul Aisyiyah. Tapi jenjang perkaderan tetep dihitung ya wkkwkw, soalnya setelah itu aku langsung lanjutkan ke DANA 2, 15 tahun setelahnya hehehe. Selain perkaderan di Nasyiah, pas aliyah juga ikut perkaderannya IRM. Walaupun sekolah di sekolah negeri (MAN 1) tapi waktu itu IRM di MANsa cukup gayeng juga. Eh apa masih ada Ranting Bulaksumur Raya sekarang ya?
β
βSejak ikut DANA 1 hingga tahun 2000 aktif di Nasyiah Ranting Kauman. Kenapa cuma sampe 2000? karena tahun 2000 merantau ke Semarang untuk kuliah dan sempat vakum dari berMuhammadiyah selama setahun lebih sampai di 2002 bergabung di IMM Komisariat Ibnu Sina Undip. Karena termasuk lulus cepet jadi di organisasi mahasiswa 2 tahun aja sampai 2004 lulus dari Undip dan kembali ke Jogja. Sekembali dari Semarang, tidak lagi aktif sampai kemudian bergabung kembali di PDNA Sleman, PWNA DIY tahun 2011. Jadi sebenernya, ortom yang belum aku rasain sampai sekarang itu HW, Pemuda Muhammadiyah dan Aisyiyah wkwkw. Aktivitas di Muhammadiyah berlanjut sampe di Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah khususunya periode 2015-2022. Sekarang LPB namanya berubah jadi Lembaga Resiliensi Bencana, tapi untuk saat ini sedang ngga bisa aktif karena ada prioritas dan fokus yang lain.
β
βBanyak orang yang mikir kalo bermuhammadiyah itu memberi sesuatu, berkontribusi, berjuang dan seterusnya. Padahal kalau aku sih karena kontribusinya minor banget yang kalo dibanding Muhammadiyah se raksasa ini, ya ngga bisa dibilang berkontribusi. Tapi justru sebenernya aku yang mengeruk dalam-dalam kemanfaatan dari berMuhammadiyah. Jadi lebih ke βmendapatkanβ daripada βmemberikanβ.
β
βYang pertama jelas ilmu dan pengalaman. Dari pengalaman mengelola organisasi, ikut berbagai macam pelatihan baik yang gratis, ataupun mbayar SWP yang kembali ke diri sendiri, atau SWP dibayarin organisasi. SWP itu sumbangan wajib perorangan semacam uang pendaftaran yang biasanya kembali ke peserta seperti untuk biaya venue dan konsumsi gitu. Tapi banyakan ngga pake bayar-bayar. Kalo dihitung dari 1996 sampai hari ini, kursus dan pelatihan yang aku ikuti karena aktif di MuhammadiyahΒ ngga kehitung yaaa dari pelatihan merawat jenazah, pelatihan public speaking, jurnalistik, core humanitarian standard, pelatihan humanitarian assistance, mewakili muhammadiyah atau ortom dalam berbagai pelatihan dan training. Jadi sebenernya kontribusi waktu tenaga dan materi untuk Muhammadiyah ngga sebanding dengan kemanfaatan yang aku keruk sedalam-dalamnya. Belum lagi pengalaman mengunjungi berbagai tempat di Indonesia yang dibiayai oleh persyarikatan, baik sejak di Community Based Avian Influenza Control (CBAIC), ikut permusyawaratannya Nasyiatul Aisyiyah ataupun tugas-tugas respon bencana di MDMC.
βBermuhammadiyah juga kasi akses ke sumber-sumber ilmu dan kesempatan untuk self improvement. Karena berMuhammadiyah jadi bisa mewakili organisasi untuk ikut pelatihan ini itu, mendapatkan rekomendasi untuk cari beasiswa dan lanjut studi, mendaftar fellowship dan kursus, ikut Lemhannas dan lain-lain.
β
βYang ke dua dapet sahabat, kerabat, sampai dapet suami di Muhammadiyah. Mungkin 60% kawan baik seperti saudara yang aku punya saat iniΒ dapetnya ya dari ber Muhammadiyah. Sisanya terdistribusi ke temen SMP, temen Aliyah, temen S1, temen S2, temen kerja dan lain-lain. Ketemu jodoh juga di Muhammadiyah, terlibat cinlok sama Satpam Kantor PP Muhammadiyah saat sering nongkorng di Gedoeng Muhammadiyah Jl. KHA Dahlan wkwkwk. Yaa gimana ya Pak Satpamnya yang itu baik banget, murah senyum, kalo keliatan kesulitan bawa barang banyak langsung cepet-cepet bantu tanpa diminta, kalo susah parkir atau ngeluarin motor langsung dibantu wkkwkkw. Walaupun dia baiknya ke semua orang tapi aku yang waktu itu jomblo menahun baper dong wkwkwk.
β
βYang ke tiga pekerjaan. Sempat kerja atau mengerjakan project di Muhammadiyah dari jadi fasilitator CBAIC, jadi staff bendahara PPNA, jadiΒ karyawan di Keperawatan UMY, mengelola project-project kemitraannya Muhammadiyah yang alhamdulillah ada maisyahnya. Meskipun buat aku sendiri ini tidak terasa nyaman karena dari kecil didoktrin “π»πππ’π-βπππ’ππππβ ππ’βπππππππ¦πβ, ππππππππβ πππππππ ππππβπππ’πππ ππ ππ’βπππππππ¦πβ” sejujurnya, rasanya berat sekali untuk aku jika pekerjaan profesional aku ada di Muhammadiyah. Padahal ini pandangan yang kurang pas ya. Muhammadiyah dan Amal Usaha Muhammadiyah sebagai unit bisnisnya Muhammadiyah tentu membutuhkan orang yang mau berkontribusi bekerja secara profesional, mengelola AUM ataupun program-program Muhammadiyah sesuai dengan visi misi dan tujuan Muhammadiyah. Tentu lebih pas jika yang bekerja seperti itu adalah orang-orang yang sudah pernah merasakan perkaderan di Muhammadiyah.
β
βTapi aku pribadi pingin membangun grafik sendiri di luar Muhammadiyah. Karena menurutku ber Muhammadiyah itu ngga ada batasan umurnya. Suatu saat nanti kita harusΒ memberi kesempatan bagi yang muda-muda untuk merasakan experience yang sudah kita rasakan sebelumnya.Β Karena di Muhammadiyah ngga ada batasan umur, maka kita sendiri yang harus tahu batas-batasnya. Yang aku ngga mau adalah jikaΒ tidak aku mulai dari sekarang untuk membangun profil profesional di tempat lain, takutnya kelak aku jadi enggan memberi ruang bagi yang muda-muda karena Muhammadiyah jadi satu-satunya ruang buat berkarya dan ngga ada tempat yang lainnya.Β Ini pendapat aku pribadi yaa ngga harus sama. Hanya saja ngga ngebayangin kalo 5-10 tahun ke depan masih pegang program-program mdmc, buat aku pribadi itu ngga boleh terjadi.
β
βSelain hal-hal di atas, ada beberapa hal yang bikin bangga banget jadi keluarga besar Muhammadiyah. Salah satunya adalah warga Muhammadiyah bebas menyampaikan pendapat dan bebas memiliki pandangan politik sesuai hati nuraninya. Persyarikatan ngga mudah goyah oleh kepentingan-kepentingan pragmatis, ngga gampang dibawa kesana kemari sesuai selera orang tertentu karena kepemimpinannya yang kolektif kolegial. Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah seperti sekolah dan rumah sakit serta perguruan tinggi yang profeesional juga cukup membanggakan. Walaupun masih banyak yang harus dibenahi di sana sini, keragaman dan kesenjangan dari grassroot sampai tokoh-tokoh di pusat, adanya pegiat yang memanfaatkan Muhammadiyah atau ortom untuk kepentingan pribadi, menggunakan simbol-simbol Muhammadiyah untuk mendukung kubu politik tertentu dan lain sebagainya masih terus terjadi, tapiΒ itu adalah dinamika dan saringan untuk melihat kualitas kader dan pemimpin.
β
βSelamat Milad ke 112 Persyarikatan Muhammadiyah. Terimakasih telah menjadi rumah penempa yang membantu mendefinisikan diri aku.
β
βSemoga Sang Surya terus menyinari negeri ini, menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.
β
βAamiin.
β
βJakarta Selatan, 17 November 2024
β