JATUH CINTA


‎Aku suka hujan. Suka banget. Boleh dibilang cinta malah. Seandainya hujan bisa kupacari, udah kupacari dari dulu. Sayangnya ngga bisa.

‎Tiap kali hujan turun aku langsung bahagia. Sangat. Rasa-rasanya belum pernah dalam hidup aku menggerutu karena hujan turun. Tiap kali hujan turun, aku membuka jendela lalu menghirup aroma hujan. Atau aroma tanah yang terkena air hujan. Lalu menyeduh kopi, memandang hujan. Atau menuliskan sebait dua bait puisi.

‎Ketika masih aktif di Nasyiah, suka KZL kalo ada yang ijin ngga berangkat rapat karena hujan. Kita hidup di iklim begini woy, kalo hujan adalah alasan berhenti beraktivitas, lah setengah tahun gegoleran aja kita. Haha mohonmaap ya rekan yang pernah aku omeli begitu 😅.

‎Berada di atas motor saat hujan adalah hal yang sangat menyenangkan. Dua puluh sekian tahun lalu, saat masih tinggal di Tembalang yang hampir setiap sore hujan, setiap mendung datang aku dan Eko mengeluarkan motor, lalu menyusuri jalan Banjarsari sampai Bukit Diponegoro, atau mengelilingi kampus sambil hujan-hujanan.  Setelah hujan mereda kami melipir beli Mie Ayam langganan kami di Jl Banjarsari. Sampai-sampai pedagangnya heran kenapa kami berdua kesana selalu setelah hujan. Kami hanya tertawa.

‎Pada saat hidup ngga baik-baik aja, saat sedih luar biasa, berkendara dengan motor saat hujan adalah cara terbaik menyembunyikan air mata. Atau sebaliknya. Saat sebenarnya tidak sedang sedih pun, berkendara saat hujan kadang membuat tiba-tiba mengingat hal yang menyedihkan.

‎Ketika tinggal di Sentul yang juga sering turun hujan, hujan semakin terasa sendu karena jauh dari keluarga. Setiap kali hujan aku duduk di balkon asrama memandang lanskap kota Bogor. Menangis dengan berbagai alasan yang tidak semuanya bisa diceritakan. Atau jika sedang ada di kampus, menikmati hujan dari gazebo taman yang tertata rapi. Sambil ngopi.

‎Tapi makin ke sini rasa-rasanya mencintai hujan itu seperti fall in love to a person you can’t have. Sangat cinta, ingin terus bersama, tapi kebersamaannya bikin sakit. Jumat lalu sepulang kerja, pas ngeluarin motor dari kantor pas hujan mulai turun. Tebak apa yang kulakukan? Mengeluarkan jas hujan warna pink ku yang sangat lucuk? Tydac! Yang kulakukan malam itu adalah mengeluarkan plastik kresek dari jok, mlastikin tas supaya ngga basah dan pulang ke kosan sambil hujan-hujanan. Bahagia? banget woy. Tapi aku lupa kalau sejak Senin kurang istirahat. Lupa juga kalo kondisi badan udah ngga sama dengan saat hujan-hujanan dengan Eko di Tembalang 20++ tahun lalu. Akhirnya bahagia 10 menit itu  (Iyaa jarak kantor ke kosan cuma 10 menitan pake motor) dibayar dengan demam hari Sabtu dan Minggu 😅😅. Absurd yhaaaa.

‎Tapi Alhamdulillah ga sampe flu batuk-batuk karena di sini ngga ada Pak Wakidi yang selalu bikinin aku minuman hangat baik pas lagi sehat apalagi kalo lagi sakit. Ngga ada yang nyariin obat atau mbeliin  Bakmi Godhog pake uritan (jiahhh ini lebih susah lagi nyari di Jaksel, ada tapi harganya ngga 16 ribu wkkwkkwk). Bisa repot kalo sampe sakit. Setelah recovered dari demam dua hari sebagai harga yang harus dibayar dari kebahagiaan 10 menit itu, jadi mikir ternyata Alhamdulillah banget sejak Januari di Jakarta baru ini ngerasain kurang enak badan. Padahal sebulan sebelumnya juga kehujanan (tapi pake mantel sih) pas pulang dari Sentul Alhamdulillah ga kenapa-kenapa.

‎Jadi apa pesan moral dari tulisan ini? Ngga ada gess. Ngga semua harus ada pesan moral dan berfaedah kan yaaa wkkwkw. Lama ngga nulis panjang-panjang gini sampe takut akutu kehilangan kemampuan menulis karena terlalu lama cuma nulis key point aja terus nyuruh chat gpt untuk menyempurnakan wkkwkwk. Kalo jadi ga bisa nulis lagi kan gawat ya soalnya Iqbal Aji Daryono udah ga buka les nulis lagi, terus nanti aku les di mana 😅. Yaa walaupun hasil les yang kemarin belum menampakkan hasil dan pingin aku refund rasanya wkkwwkkwkw.

‎Gambar hanya pemanis, tidak ada kaitan dengan caption. Mohon maaf juga kalo judulnya ngga nyambung sama isi tulisan. Ngga ada maksud apa-apa, cuma karena bingung aja tulisan serandom ini mau dijudulin apa 😅

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top