RODA HIDUP

‎Aku pernah menjadi mustahiq. Hidup dan sekolah dari santunan banyak orang. Pernah berpenghasilan 10x UMP jogja saat itu, lalu tidak punya penghasilan sama sekali. Pernah menghutangi, tapi juga pernah terjerat hutang yang cukup lumayan. Pernah meminta beras pada saudara, pernah makan di tempat-tempat makan yang bagus, menumpang kendaraan terbaik, pernah beli bensin dengan uang receh seratusan semua karena tak ada yang lainnya. Pernah memenuhi kulkas dengan sediaan makanan untuk seminggu, pernah clueless besok mau makan apa. Pernah listrik diputus karena tak bisa bayar, pernah membayarkan listrik beberapa rumah yang tidak kutempati. Pernah bershodaqoh dan dishodaqohi. Pernah menjadi master trainer, manajer program, pernah menjadi pengangguran, pernah menjadi staff kantor, pernah menjadi tukang sapu tukang bersih-bersih. Serius!

‎Aku pernah merasakan bahagia dalam segala keterbatasan. Percayalah, saat kau berada di bagian paling rumit dalam hidupmu, kau hanya perlu lebih jeli menemukan hal-hal kecil yang membahagiakanmu. Kalau kau masih percaya bahwa kebahagiaan itu sebanding dengan tingkat ekonomi dan strata sosial, kamu harus berhenti nonton kehidupan crazy rich crazy rich-an itu wkwkkwk.

‎Semoga, kita menjadi orang tua yang bijak yang tidak melulu mengenalkan pada anak bahwa kebahagiaan adalah saat dia membeli mainan bagus (luxury), yang tidak dimiliki teman-temannya (prestise). Tapi mengenalkan seni mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup dengan cara yang lain: kebahagiaan saat berbagi, kebahagiaan saat menolong sesama, kebahagiaan saat berkesempatan untuk menuntut ilmu, kebahagiaan saat membahagiakan orang lain, kebahagiaan saat bersilaturahim serta kebahagiaan saat merasa dekat dengan Yang Maha Kasih…

‎Semoga…

‎(Repost)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top