Sebetulnya tiket konser dengan harga jutaan dan laris manis sampai war tiket di Indonesia sudah sering kita lihat. Bahkan konser penyanyi internasional di Singapore pun sering dibanjiri penonton dari Indonesia. Dalam setahun ada belasan penyanyi K-Pop yang berkonser di GBK dan ngga pernah sepi penonton meski harga tiketnya di atas 1jt.
Tapi entah kenapa ketika ada event organizer menggelar konser Iwan Fals yang harga tiketnya dibandrol seharga Kambing dan motor matic 160cc ada sesuatu yang mengusik hati. Padahal, untuk bisa terus berkarya seorang seniman dan timnya tentu butuh biaya yang tidak murah. Terkadang harus mengkompromikan idealisme dengan selera pasar, agar operasional tim bisa terus berjalan. Menurut aku Iwan Fals juga sudah berusaha untuk punya konser yang sesuai dengan idealismenya dengan membuat Panggung Kita di rumahnya sendiri, yang memungkinkan diakses oleh orang-orang dengan kantong cekak.
Selain itu, penikmat Iwan Fals juga sangat beragam. Jadi wajar banget jika sekali waktu memberikan kesempatan orang yang ingin duduk dengan anggun, di ruangan yang dingin dan nyaman, ngga pake loncat-loncat sambil ikut koor Hio Hio Hioooo, untuk menonton konser legenda hidup Iwan Fals. Tentu ada lah penyuka Iwan Fals dengan selera seperti itu. Makanya ini bukan soal mengkapitalisasi, tapi memberikan kesempatan pada segmen penikmat Iwan Fals yang lain. Wajar. Wajar banget.
Nah meskipun konser intimate, berkelas seperti ini sangat wajar digelar untuk musisi manapun, tapi banyak suara sumbang mengkritisi Iwan Fals dan menganggap Iwan Fals tak lagi menjadi corong yang menyuarakan orang pinggiran. Ada pula yang menyayangkan Iwan Fals saat ini tak lagi punya kritik tajam terhadap pemerintah. Menurut aku ini suatu kesimpulan yang kurang tepat.
Pada era sebelum reformasi, tidak mudah untuk menyampaikan opini dan kritik terhadap penguasa saat itu. Menulis opini sedikit keras, media cetak akan segera dibredel. Radio dicabut hak siar, atau malah si pemilik opini akan tiba-tiba ngga pulang meski pamit keluar sekedar beli terasi. Saat itulah kritik lewat seni menjadi solusi. Dari teater, novel, sampai musik, termasuk Iwan Fals.
Sekarang jamannya sudah beda. Setiap orang bisa ngejeplak sesukanya, dan yang bersuara sangat keras sudah sangat banyak. Jadi kritik lewat seni, mungkin sudah tidak diperlukan lagi. Karena tokh sama sama ngga didengar. Yang tereak kenceng aja ngga didengar apalagi yang sambil genjrengan.
Yang kedua, dulu masa orba, sebagian besar merasa kontra dengan pemerintah. Makanya lagu-lagu bernada satir diamini banyak orang. Hari ini, Fans penguasa juga banyak. Yang tidak merasa aneh dengan keputusan MK menghapus syarat minimal usia capres dan kepala daerah juga banyak. Yang setuju Tapera banyak. Artinya terhadap kebijakan pemerintah kita tidak satu suara, tak seperti saat orba. Maka kritik terhadap pemerintah malah bisa berakhir pada perang saudara. Kurasa itu yang membuat Iwan Fals lebih berhati-hati, karena alih-alih mengadvokasi, bisa jadi malah nambah keributan.
Kembali ke soal konser seharga Kambing dan motor Aerox, se wajar-wajarnya konser Iwan Fals dijual mahal, menurut aku organiser yang bikin event konser Iwan Fals yang menyasar ekonomi menengah atas itu namanya pemberani 😅. Karena bagaimanapun juga mayoritas penikmat Iwan Fals itu ya orang pinggiran o e a e o, atau robot bernyawa 😅😅.
Terus kalo konser artis luar negeri laku banget di Indonesia walaupun harga mahal itu karena bisa naikin gengsi, jadi orang bela belain beli tiket konser pake kartu kredit atau paylater karena bisa dibanggain. Kalo Iwan Fals bukan selera gen Z, ngga ngangkat gengsi jadi orang mikir panjang beli tiket segitu.
Ya meskipun ada yang masih minat ngejar experience, tapi penikmat Iwan Fals sejati pada umumnya tidak ada di kelas tersebut.
For your information, bukan sekali aja intimate concert Iwan Fals berharga mahal dibatalkan secara sepihak oleh event organizer, karena ngga match sasaran konsernya. Tapi ya mungkin pebisnis-pebisnis itu punya hitungan lain. Saya pribadi tinggal nunggu postingan orang-orang yang nonton konser, mungkin sambil menunggu konser di Panggung Kita atau di Gaung Merah yang harganya masih terjangkau.
Sudah 5 tahun sejak terakhir nonton konser di Panggung Kita, sudah semakin menua apakah nanti masih bisa nonton konser lagi sambil ikut Koor
”Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai tapi kutetap berdiri Ooooo”
Jakarta Selatan, 2 Juni 2024
Orang Pinggiran di Tengah Kota yang bukan lagi Ibukota