‎LATEPOST BACKPACKINGAN SAMA SI BUJANG



‎Ketika aku sekolah di Unhan dan mempercayakan Farhan sepenuhnya pada Ayahnya, sesunghuhnya yang sedang menempuh pendidikan bukan hanya aku sendiri, tapi kami semua. Ada pembelajaran dan pengalaman berharga yang mungkin tidak kami dapatkan jika aku hanya diam saja di rumah. Namun begitu, tidak bisa dipungkiri, ada waktu-waktu berkualitas yang terlewat. Tentu saja Backpacking 8 hari tidak bisa menggantikan apa yang terlewatkan selama aku di Unhan, di Sulteng, di Sulbar dll. Tapi ketika menyadari anak sudah hampir masuk pesantren (yang buatku itu berarti melepas dia dengan kemungkinan akan terus merantau di sepanjang hidupnya), ada beberapa obrolan penting Ibu-Anak yang belum tertuntaskan. Maka Backpacking ini hanya sarana saja di mana kami memiliki banyak kesempatan untuk ngobrol berdua saja tentang apa yang mungkin dia hadapi saat memasuki masa remaja nanti. Juga tips2 hidup di rantau, ngadepin orang dengan berbagai keanehannya masing-masing, dan ngadepin orang-orang yang mungkin tidak bisa mentolerir keanehan diri kita.

‎Selain leluasa ngobrol, jalan berdua saja dengan Si Bujang juga ngebantu banget membangun rasa tanggungjawab, rasa ingin jagain ibuknya, menjadi bagian dalam perencanaan dan mengambil keputusan. Beda memang daripada jika kami pergi bertiga.

‎Selain memberi kepercayaan untuk check in dan drop bagasi sendiri, kemarin juga ngajarin Farhan backpacking dengan budget yang ketat. Maap bukan mengkondisikan budget ketat untuk edukasi yaaaa,  emang Emaknya kantongnya cekak wkwkkw. Tapi pingin banget anak tidak memandang mewah perjalanan dan pengalaman. Jangan sampai menganggap bahwa travelling itu leisure belaka, tidak penting dan tidak perlu, harus nunggu kaya dulu untuk travelling. Jangan. Farhan harus tau bahwa dengan budget minim pun bisa mendapatkan pengalaman juga. Tidak apa-apa menginap di hotel budget (rate termurah kami di 125K di pinggir pantai Sanur), yang tidak ada air hangat. Bawanya ransel bukan kopor karena kita menyewa motor untuk bepergian ke tempat-tempat wisata dan pindah satu hotel ke hotel yang lain. Belanja sayuran dan masak di penginapan pakai panci elektrik mini. Bisa dibilang jajan di resto hanya 2 kali, di Nusa Penida sama Pas di Ubud, selebihnya kami makan bekal. Pas di Ubud, hotel budget yang kami pesan via aplikasi ternyata sudah tidak beroperasi lagi 😅  langsung sat set cari alternatif murah lain. Bawa humidifier mini karena takut kalo hotelnya bau kurang sedap karena nyari yang se budget budgetnya wkkwkw. Tiketnya garuda dapet nuker dari Garuda Miles pas ke Jepang (Garuda ada program extend miles selama pandemi) dan miles dari bolak balik Jogja Palu (Terimakasih masyarakat Swiss  😅). Sebagian hotelnya pake Traveloka point  (Terimakasih temen2 yang sering minta tolong carikan tiket wkkwwkwk).

‎Merantaulah Nak, sejauh-jauhnya. Pungut Ilmu dan Kebijaksanaan di seluruh penjuru Bumi Tuhan yang luas ini. Ibukmu tidak kaya. Mungkin tidak selalu bisa memperjalankanmu ke tempat-tempat yang jauh. Tapi setidaknya Ibuk udah memberimu contoh. Karena setiap perjalanan akan memberi pelajaran yang berbeda. Bahkan jika kau berjalan ke tempat yang sama berulang ulang pun, setiap perjalanan akan memberi pengalaman yang tak serupa. Kelak Ibu akan menunggu telfon darimu dari tempat-tempat yang belum ibu kunjungi. Atau menunggu kartu pos, sambil terus mendoakan, semoga di manapun kamu berada, Allah beri kemudahan bagimu untuk menebar manfaat pada sesama dan semesta…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top