(tulisan panjang, kalo males baca skip aja. Sik komentar kepanjangen tak blokir wkkwkwkwk)
Ada temen aku, tentara, suka banget shyer ke aku tentang Pak Amin dan Pak Dien kalo beliau2 itu bikin statement yang menurut temen aku tu rada wagu gitu. Seolah-olah kaya komplen ke aku atau minta penjelasan. Lahh ya mana aku tau yak apa yang ada di kepalanya Bapak2 itu. Biasanya mentok-mentok aku jawab “Lha mbok yo bene to Pak, wong yo negara demokrasi ki ncen bebas berpendapat jew” wkwkwk.
Untungnya nih ya di Muhammadiyah itu, kalo soal pandangan politik, bebaasss banget. Ngga harus sama dengan ketuanya. Bersyukurnya juga kita punya Buya Syafii, punya Pak Amien, Pak Dien, Allahuyarham Ust Yunahar dll yang mana mereka ngga selalu satu suara dalam merespon dinamika negeri ini. Itu bikin -semestinya- orang tau kalo kita ngga ada kewajiban harus sama kaya sesepuh, secara para sesepuh satu dengan yang lain aja ngga selalu satu suara. Itu juga berarti kita ngga ada kewajiban buat ngejelasin atau bahkan ikut malu kalo ada senior kita berstatement rada ngga pas di telinga kita.
Terus, se-beda dan se-ngga setuju apapun kita dengan para sesepuh itu, kita tetap menghormati mereka yang udah luar biasa kiprahnya untuk ummat. Seperti misal kita ngga setuju Pak Amien bikin partai baru karena kita kasian Mumtaz kalo harus renang dari Labuan Bajo ke Pantai Kapuk, kita tetep menghargai Pak Amien sebagai bapak reformasi. Ngga kebayang kan kalo kita harus hidup di bawah Undang-Undang Anti Subversif lagi? Ya nanti kalo misal beneran Pak Amien harus banget bikin partai, dan Mumtaz beneran jadi renang, mungkin water rescuernya MDMC bisa siap mengawal. Sekalian syiar wkwkwkw.
Dalam pandangan politik, warga Muhammadiyah itu bebas banget. Ikut partai apapun boleh. PDI P boleh dan banyak temen yang ke sana. Ke PKS pun ngga ada larangan sebenernya, tapi pasti rada sensitif hahahaha. Kenapa? Ya karena Muhammadiyah itu gerakan dakwah. PKS juga mengklaim sebagai partai dakwah. Ya etika aja menurutku ngga etis kita ada di dua organisasi berbeda yang salah satu tujuannya sama. Misal kaya aku ikut Nasyiah sekaligus Fatayat gitu kan lucu. Coraknya mirip. Kan jadi kaya agen ganda. Semoga ini bisa dipahami sama kawan2 PKS. Urusan menggerakkan dakwah kita kompetitor lho (jangan dipandang sebagai hal negatif ya, karena kita kan memang disuruh berkompetisi dalam kebaikan).
Kebebasan ini harus menjadi suatu kesyukuran. Dan jangan malu untuk menunjukkan kita beda. Sebagian kita ada yang suka banget narik-narik warga Muhammadiyah untuk ke pilihan politik tertentu, bahkan ketika pilpres kemarin banyak sekali tekanan untuk Muhammadiyah secara organisasi mengarahkan ke calon tertentu. Dan Alhamdulillah luar biasanya Pak Haedar berusaha menjaga jarak yang sama dengan kedua pasang capres. Rumangsamu gampang? Orak cah!
Nah musim Pilkada ini, kita janganlah jadi warga Muhammadiyah yang kufur nikmat dengan berkeinginan menyeragamkan pilihan warga Muhammadiyah. Menganggap bahwa orang Muhammadiyah harus ndukung orang Muhammadiyah, nek nggak ndukung berarti kurang Muhammadiyah. Wee lha ya tergantung yang jadi calon kaya apa kompetitornya kaya apa ya. Orang kan punya pertimbangan masing-masing. Ada yang mempertimbangkan pengalaman, ada yang memang sudah sangat kenal integritas calon lain dll.
Muhammadiyah itu besar, sangat besar. Ada atau ngga ada warga Muhammadiyah yang memimpin, Muhammadiyah tetep bisa berkhidmat di manapun juga. Calon pemimpin daerah itu diusung partai, didanai partai dan sponsor-sponsornya yang kemudian memasukkan Muhammadiyah dalam strategi kemenangan mereka. Setelah jadi, kalau jadi, ya beban moralnya ngga cuma ke Muhammadiyah, tapi ke partai juga. Itu udah rumus pakemnya kayak gitu. There’s no free lunch. Ya kalo calonnya kuat bisa bertahan dari dominasi parpol dan sponsor yang ngga selalu sejalan dengan nurani. Siapa yang bisa jamin?
Kepentingan Muhammadiyah itu bukan gimana caranya ada orang Muhammadiyah di struktur. Bukan. Tapi gimana caranya agar, siapapun juga yang memimpin nantinya, itu bisa memimpin dengan integritas, bisa peduli pada orang-orang tertindas, peduli pada pendidikan dan kesehatan, membangun manusia unggul dan lain-lain yang indah-indah dan utopis kayak di pelajaran PMP wkkwkwk (ketauan umurnya yak).
Lha Muhammadiyah punya PR untuk menjadi sistem kontrol, siapapun yang memimpin nantinya. Dan ini hanya bisa terjadi jika Muhammadiyah merawat jarak yang sama dengan semua calon agar tidak ada beban sejarah. Kalo mau ndukung ya ndukung aja gausah bawa bawa Muhammadiyah, apalagi pake acara memojokkan yang ngga sepemahaman, meragukan kemuhammadiyahannya. Apalagi kalo sampe jadi ribut. Hadeh.
Justru yang pingin menyeragamkan pandangan warga Muhammadiyah itulah yang kurang Muhammadiyah. Yang ngga mensyukuri kebebasan dan keragaman yang dimiliki warga Muhammadiyah. Kandani og, Majelis Tarjih mutusin rokok haram wae do tetep ngerokok, bebasssss. Lha sopo kowe kok pingin ngatur2 pilihane wong Muhammadiyah? Wkwkkwkkw.
Di banyak Kota, walikotane nggak Muhammadiyah iku ngga popo, ngga masalah. Muhammadiyah tetep baik baik saja, iso mlaku dan tetep merdeka. Tapi kalo sesama orang Muhammadiyah ribut apapun latar belakang ributnya, lha kuwi masalah Jum! Ojo diwolak walik, Muhammadiyah sik umure 107 dikorbanke demi pimpinan daerah sing mung 5 taun.130920