‎UNTUK BU AHANG DI “RUANG TRANSIT”



‎Hai Buk…

‎Sudah 3 hari Ibuk berpulang, ada krowak besar di hati aku Buk. Yah meski pastinya krowakan itu ngga sebesar krowakan di hati Bapak dan Bita, tapi belum pernah sebelumnya sekrowak ini. Bahkan ngga ada kata-kata yang bisa menggambarkannya dengan tepat.

‎Maafin aku ya Buk, setahun terakhir ini hidup aku semrawut banget. Sampai-sampai aku ngga peduli apapun dan siapapun. Jarang silaturahim. Jarang nanyain kabar ibuk bahkan ketika Ibuk sudah ngga kemana-mana lagi.

‎Ketika kita pergi ke Coklat Monggo setahun lalu sebenernya aku pingin cerita tentang apa yang sedang aku hadapi. Karena Ibuk adalah orang di luar keluargaku yang paling tau tentang aku. Bahkan tentang hal-hal yang ngga aku ceritakan pada siapapun (Bit jangan baca chat-chat kami ya, Bu Ameh malu 🥺). Tapi hari itu pun tak sanggup aku cerita apa apa, dan tak pernah cerita sampai akhirnya tak ada kesempatan lagi untuk cerita. Maaf ya Buk.

‎Buk terimakasih ya udah selalu ada dalam kehidupan aku 17 tahun terakhir. Tempat nyender pas lagi sedih-sedihnya. Customer pertama pas belajar jualan makanan meski hasilnya zonk. Kalo aku buka PO apapun Ibuk pasti beli. Jadi tester masakan-masakan aku apapun hasilnya.  Tempat sambat masalah apapun dari soal kerjaan sampai keuangan.

‎Dulu ketika aku mau nikah, Ibuk yang ikut sibuk, nyarikan perias, belanja kain, tempat pesen Snack dll. Pak Wakidi bahkan pinjem baju Bapak buat Akadnya. Waktu itu Ibuk bikinkan aku gelang swarovsky warna pink, aku pake pas akad. Gelangnya udah rusak Buk, tapi batu-batunya masih ada dan udah kubikin gelang lagi pake tali tali. Makasih ya Buk.

‎Ketika aku jadi staff Bendahara PPNA dan Ibuk adalah Bendahara umumnya, aku jadi karyawan paling bahagia sedunia punya atasan sebaik Ibuk. Ngga kerasa atasan tapi udah kayak Mbakyu sendiri. Inget ngga Buk ketika kita naik motor hunting tempat untuk Tanwir. Ke youth center Sleman, ke LPMP, hotel ini dan itu. Sepanjang jalan kita nyanyi Rinduku Iwan Fals, tapi cuma bisa reff nya doang dan kita ulang ulang, “Ku tak pernah merasa jemu, bila kau slalu di sampingku, begitu nyanyian rinduku, terserah apa katamu…” Rasanya keliling Jogja Deket aja kalo sama Ibuk. Walaupun tetep harus ada dragon di tas Ibuk. Tahun-tahun itu, hampir tiap hari aku ke kasihan.

‎Bantuan Ibuk dan Bapak Ayip ke keluargaku ngga bisa dihitung dan ngga ada cara untuk membalasnya. Ketika erupsi 2010, Ibuk dan Bapak yang evak aku dan Farhan. Itu hanya salah satu dari sekian banyak kebaikan kebaikan keluarga Ibuk. Makasih ya Buk… Pak….

‎Ibuk tau hal apa yang paling istimewa dari Ibuk? Kebaikan hati dan kesederhanaan Ibuk. Buat diri sendiri Ibuk hemat luar biasa. Berapa kali aku komporin beli handbag yang bagus buat kondangan, tapi menurut Ibuk itu ngga perlu. Dan soal handbag itu jadi jokes kita yang ngga habis-habis. Sehemat itu untuk diri sendiri, tapi kalau untuk membantu orang lain Ibuk selalu ada. Untuk nyeneng2in orang lain Ibuk ngga ada itungannya. Ngga sayang ngga eman-eman.

‎Hal lain adalah, kesederhanaan Ibuk yang ngga haus akan kemasyhuran ketenaran ketokohan diri atau yang sejenisnya. Di cyrcle kita di persyarikatan kadang kehebatan seseorang diukur dari seberapa sering dia naik podium, seberapa sering flyernya bertebaran di jagat maya. Ibuk jauh dari spotlight tapi mengabdi untuk persyarikatannya ngga main-main. Bahkan Ibuk memilih perjuangan-perjuangan tak terlihat seperti berjuang di SD Muhammadiyah Insan Kreatif Kembaran. Bahkan Ibuk ngga gimana-gimana ketika ada orang lain yang mendapat kredit atau pujian atas apa yang Ibuk kerjakan. Tapi tahukah Ibuk? Meski jauh dari spotlight tapi kontribusi Ibuk sangat berarti dan dirasakan langsung oleh semuanya. Ketika Ibuk berpulang sekian banyak orang merasakan kehilangan, sebagian karena merasakan Ibuk adalah orang yang enak banget buat diajak kerjasama, selalu gampang kalo berurusan sama orang lain, ngga fragile, ngga minta diprioritaskan. Itulah Ibuk.

‎Keistimewaan Ibuk yang lain adalah kehangatan Ibuk pada siapa saja yang mau menerima kehangatan itu. Teman jadi saudaranya ngga terhitung jumlanya. Yang lemes ketika mendengar kabar Ibuk masuk rumah sakit bukan aku saja, tapi lusinan orang yang merasakan kehangatan hati Ibuk sepanjang hidup Ibuk. Yang ndeprok nangis ketika mendengar kabar Ibuk berpulang tak terhitung berapa orang. Sesedih itu kami Buk.

‎Tapi sebesar apapun krowak di hati kami, sesedih apapun rasa kehilangan ini, kami ikhlas melepasmu Buk. Insya Allah bekal Ibuk menghadapNya ngga kurang-kurang. Insya Allah kami akan terus mendoakan, semoga tempat transit Ibuk lapang dan terang benderang. Sampai waktunya nanti kita jumpa lagi, berada pada satu barisan, orang-orang yang mendapat Syafaat Rasulullah.

‎Insya Allah, persaudaraan dengan Bapak, Bita, Mba Uun dan Mba Itah tidak selesai seberpulangnya Ibuk.

‎Terimakasih atas persaudaraan yang Ibuk bangun dan rawat. Selamat jalan Buk….

‎Jakarta Selatan, 11 Juli 2024

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top