Aku sendiri ngga punya kenangan apa-apa karena beliau berpulang aku belum lahir. Tapi sering denger cerita-cerita tentang Mbah Um.
Dulu, ketika pengajian keluarga Pengulon masih diadakan rutin tiap malem Jumat, aku sering dimintai tolong Lek Diyah Respati untuk ngiderin undangan se-Kauman. Nah, momen nganter undangan ini, kalo pas nganter undangan ke Mbah Darim, selalu disuruh masuk, duduk, disuguhi, diajak cerita.
Mbah Darim sering cerita tentang Mbah Um bersama teman-temannya di Siswo Proyo Wanito, ngajar anak-anak usia dini tentang agama, ngajar ngaji, dll, yang tempatnya di Pengulon (Pendopo Penghulu Kraton Ngayogjokarto Hadiningrat), secara Mbah Um adalah Putri Penghulu Kraton, Sangidu/Kamaludiningrat. Kumpulan bocil-bocil itu yang menjadi cikal bakal Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal (TK ABA) yang sekarang se-Indonesia ada lebih dari 20 ribu jumlahnya.
Selain pengajian anak-anak, Mbah Um juga punya pengajian Adz Dzakirot tiap malem Sabtu buat ibu-ibu, yang sampe sekarang masih ada pengajiannya.
Selain Mbah Darim, cerita tentang Mbah Um banyak kudengar dari Ibukku, yang dulu adalah murid Mbah Um di Muallimat, yang kebetulan berasrama di tempatnya Mbah Um (Asrama 305), yang kemudian diambil jadi menantu 😁.
Ibukku lumayan sering diajak keliling-keliling, ngisi pengajian atau acara Siswo Proyo Wanito. Mbah Um seneng banget silaturahim. Kalo mengunjungi suatu kota pasti mampir ke kerabat, atau ke alumni asrama. Kalo aku nyimpulin dari cerita Ibukku, kayaknya beliau orangnya cukup tegas (atau galak? wkwkwk, ngga tau ya, coba cucu-cucunya yang punya kenangan dengan Mbah Um bisa diceritakan di kolom komentar 🫢).
Suatu ketika, pas aku masih kecil dan kami lagi miskin-miskinnya 😅, Ibukku mau ndatengin undangan nikah tapi ngga bawa amplop. Aku tanya Ibukku, emangnya ngga papa ngga nyumbang? Ibukku bilang, “Lah, ngga papa, justru yang bikin perjamuan berkah itu kalo didatengin orang kayak kita.” Ternyata emang ada hadistnya, gaess. Hidangan terburuk adalah hidangan pada perjamuan/walimah yang cuma didatengin orang berada dan mengexcludekan (aduh bahasa apa inih wkwk) fakir miskin.
Terus Ibukku cerita tentang pernikahan Mbah Um. Ketika bapaknya Mbah Um, Kyai Penghulu Muhammad Sangidu/Kamaludiningrat, mau menikahkan Mbah Um, Mbah Sangidu didatengin Kyai Dahlan. Kyai Dahlan dan Mbah Sangidu cukup dekat ya, karena Sangidu adalah murid sekaligus sahabat seperjuangan, yang kemudian jadi besan juga. Kyai Dahlan tanya ke Mbah Sangidu, mau mantu punya modal berapa. Lalu Mbah Sangidu menyebutkan nominalnya. Kyai Dahlan bilang jumlah itu sudah sangat cukup dan menyarankan: yang ⅓ untuk walimah, yang ⅓ untuk modal berumah tangga, dan ⅓-nya lagi untuk jariyah di Muhammadiyah.
Mbah Sangidu mengikuti saran Kyai Dahlan. Dan walimahannya digelar sangat sederhana untuk ukuran anak Penghulu Kraton saat itu. Hidangannya hanya lemper, emping, dan teh panas, tapi yang menikmati sampe tekyan-tekyan (homeless) se-alun-alun.
Kadangan ada rasa malu, karena hanya terpaut satu generasi, tapi kualitasku dengan Mbah Um bisa sejauh itu. Punya Mbah sekeren itu menjadi pelopor, dan menebar manfaat pada sesama dan semesta, sementara aku menjadi cucu yang biasa biasa saja. Palingan yang kuadopsi hanya kegemaran untuk jalan-jalan, mampir sana sini, jumpa kawan dan kerabat. Tapi tenang aja, kalau meneruskan perjuangan mbah2nya Dan menjadi hebat itu Fardlu Kifayah, tugas itu sudah ditunaikan oleh sepupu²ku yang lain yang keren² wkwkkw.
**Foto Mbah Um di Retouch pake Gemini. Rumangsaku mirip Mbak Alef banget 😅
Yogyakarta, 4 Januari 2026
004/365