Sebenernya budaya kirim bingkisan hari raya itu udah ada sejak jaman dulu kala. Dalam menori masa kecilku tiap malam hari raya rumah penuh dengan hantaran-hantaran bingkisan. Meskipun mungkin hantaran-hantaran itu karena di rumah kami ada 6 orang yatim 🫢. Tapi apapun alasannya pasti berangkat Dari rasa kasih sayang yang ikhlas. Tentu saja dalam memori ngga ada kenangan nyiapin hantaran karena kami saat itu struggling banget wkwkkwk.
Tapi di era sosmed ini hantaran, atau saat ini dikenal dengan hampers jadi punya arti lain. Banyak orang berlomba-lomba posting hampers yang diterima atau dikirimkan. Tanpa bermaksud menggeneralisir, tapi bagi beberapa orang, hampers hari raya itu menjadi social media-things. Motivasi mengirim hampers salah satunya adalah agar diposting oleh penerima, lalu dia repost di sosmed. Motivasi lain adalah agar mendapat balasan hampers yang tujuannya juga untuk flexing di sosmed. Ada rasa puas ketika menerima banyak hampers dan seluruh dunia harus tau kalo banyak yang perhatian dan sayang sama kita. Tentu saja ngga semua ya, tapi adaaa.
Ya sebenernya ngga papa sih kalau itu bikin seseorang happy. Kan cara orang mendapatkan kebahagiaan beda-beda, kita menghormati aja.
Tapi makin kesini aku melihat sisi gelap dari posting-posting hampers. Saat ngirim hampers ke kolega atau kerabat, pasti seseorang punya kriteria tersendiri: yang dekat, yang sering membantu, yang dihormati dst. Dalam membuat list orang-orang yang mau dikirimin hampers mungkin saja ada satu dua yang terlewat.
Bisa jadi menurut pengirim hampers, sebut saja Mawar, temennya yang bernama Melati itu sekedar teman biasa. Sehingga tidak masuk dalam list yang akan dikirimin hampers. Sementara Melati yang ngga punya banyak temen, Mawar itu temennya yang paling deket. Hari raya yang seharusnya jadi momen bahagia malah jadi suram untuk Melati karena membuatnya mempertanyakan pertemanan, bahkan sampai mempertanyakan self worth.
Ada lagi misal si Rose yang baru keluar dari masa tersulit hidupnya, hanya mengirim sedikit hampers ke teman-temannya yang membantu dia saat kesusahan sebagai tanda terimakasih. Menilai dari postingan “terimakasih kiriman hampersnya, Rose” jadi ada yang mikir kalau Rose hanya kirim hampers ke temennya yang orang “ada”. Lalu ada teman yang merasa dekat tapi ngga dapet hampers dari Rose mikir “Karena aku miskin jadi ngga dapat hampers”.
Belum lagi rasa kecewa karena hampers yang dikirim tidak diposting oleh penerima, padahal hampers lain yang diterima dia posting. Tujuan mempererat silaturahim saat hari raya malah jadi momen sakit hati dan tersinggung.
Jadi gimana baiknya saat menerima hampers? Diposting atau tidak? Bukankah memberikan ucapan terimakasih secara publik juga akan menambah kebahagiaan pengirim hampers?
Menurut aku kalau memutuskan untuk memposting hampers yang diterima, jika memungkinkan, sebaiknya tanya dulu ke penerima hampers, apakah beliau mengijinkan jika hampers yang diterima diposting di sosmed untuk kenangan. Kalau memang mau posting, usahakan seluruh hampers yang diterima diposting tanpa ada yang terlewat.