Tahun 2024 kemarin aku daftar sekolah punyanya pemerintah yg gratis (beasiswa). Alasan milih ndaftar ini selain gratis, juga bisa sambil tetep bekerja karena usia udah segini kalo off bekerja takut kembali ke Dunia kerjanya susah lagi ntar. Dan situasinya juga lagi ngga ok untuk sekolah doang tanpa cari cuan 😅.
Ada 3 tahap seleksi pada proses penerimaan peserta didik:
(1) Seleksi Administratif,
(2) Tes Bahasa Inggris, TPA, dan Psikotest,
(3) Interview.
Saat itu aku lolos seleksi adminsitratif dan ikut tes pertama. Hasil tesnya lumayan: TPA bagus dan Bahasa Inggrisnya sangat bagus (level C1). Untuk yang Psikotes hasilnya ga muncul di layar. Sepertinya ada assessment khusus sehingga nilainya ngga real time bisa disajikan.
Sayangnya, aku ga lolos untuk tes ke tahap selanjutnya. Mungkin emang kapasitasku belum sesuai. Sebenernya Ikhlas sih. Tapi yang bikin KZL, ada 7 nama yang ga ada di pengumuman seleksi Administrasi, tapi secara ajaib muncul di daftar peserta yang berhak tes wawancara 😥. Saking penasarannya se-sakti apa 7 orang itu sampe aku cari-cari di sosmednya dan kutandain loh wkwkkwkw.
Yaa memang di institusi itu terkenal yang namanya “rekomendasi” itu bisa ngaruh banyak. Sebenernya bukannya ngga punya jaringan yang bisa dimintai tolong untuk kasih rekomendasi itu. Banyak yang bisa kutelfon. Banyak banget malah. Cuman rasa-rasanya nuraniku menghalangi untuk itu. Selain merasa itu ga bener, juga merasa ngga pantes aja kalo ngadep, minta bantuan Pak Itu atau Bu Anu untuk kepentingan pribadi kayak gini. Lagian juga aku ga goblok2 amat, pikirku saat itu wwkkw.
Seorang kawan dari institusi yang hampir sama bilang, “Orang pinter tu ngga cuma akademik aja Meh, kemampuanmu memanfaatkan jaringan yang kamu punya itu juga kecerdasan yang lain” Aku iyain aja sih soalnya ngga punya argumen untuk mendebat wkwkkwkw.
Rencananya tahun ini pingin coba lagi daftar, udah mulai konsisten latihan juga tipe-tipe soal yang dipakai. Tapi kayak ada dilemma dilemmanya gitu, antara
(1) Manfaatin jejaring yang ada, minta bantuan, kan itu emang cara yang lazim di institusi itu gimana kalo ngikutin aja cara yang lazim? Apalagi usia udah mendekati expired.
Tapi juga mikir
(2) Masak iya dari 25 kursi yang tersedia semua giveaway kan ga mungkin ya, pasti ada kursi2 yang bisa diperebutkan dengan fair walaupun susah karena peminatnya hampir 400 orang yang diterima cuma 25 an. Makanya belajar yang bener, kalo ngga lolos berarti emang belum siap menempuh pendidikan itu 😔.
Sebenernya ya ngga sepenting itu untuk lanjut sekolah. Tapi dasar akunya yang emang kecanduan sama experience ya wkwkkw. Menurut aku kok sayang juga ya kalo harus mengabaikan bisikan nurani demi sesuatu yang ngga penting-penting amat. Apa pendapat kalian Gess…