‎SAUDARA SEPERBUKUAN



‎Setiap mengenal orang yang menurutku istimewa, aku selalu ingin tahu tentang 2 hal: (1) seperti apa orangtuanya (dalam mendidiknya) dan (2) buku apa yang dia baca. Keduanya, menurutku, memberi sumbangan besar pada karakter seseorang.

‎Bu Ahang, atau biasanya aku cukup sapa “Ibuk” adalah salah satu orang yang menurut aku sangat istimewa dan langka.

‎Hal paling inspiratif dari Ibuk bagiku adalah cara Ibuk merawat Tsabita. Pada periode PPNA 2008-2012, Ibuk menjadi Bendahara Umum PPNA dan aku adalah staff bendahara. Interaksi kami saat itu sangat intens dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya hingga menjelang Ibuk berpulang.

‎Aku sempat melihat dari dekat bagimana Ibuk merawat Bita yang kemudian jadi inspirasi aku untuk membersamai Farhan. Cara Ibuk ngajak Bita berbincang dan diskusi tentang apapun sejak Bita masih kecil, melibatkannya dalam menentukan pilihan, bagimana membuat Bita suka baca, dan banyak hal lain yang sangat menginspirasiku sebagai Ibu.

‎Ketika aku hamil Farhan, Bu Ahang memberi ide untuk membuat buku kain untuk Farhan, membantu dari disain, memilih bahan, bahkan sampai meminjamkan mesin jahit karena saat itu aku belum punya.

‎Keistimewaan Ibuk yang lain adalah kesederhanaan. Ibuk jauh dari spotlight, tidak haus akan kemasyhuran, ketenaran, ketokohan diri atau yang sejenisnya. Tapi bekerja untuk persyarikatan dengan tulus dan bersungguh-sungguh. Meski Bendahara Umum, Ibuk tanpa canggung menyingsingkan lengan baju untuk bekerja ngurus yang teknis-teknis.

‎Bu Ahang itu pribadi yang hangat dan sangat baik, teman jadi saudaranya tak terhitung jumlahnya. Karena Ibuk memang seistimewa itu penasaran banget seperti apa keluarga yang membesarkan Ibuk, dan buku seperti apa yang Ibuk baca.

‎Alhamdulillah sempat kenal dengan Ibuknya Bu Ahang: Mbah Bangun. Mbah Bangun adalah sosok yang lembut, perhatian, entengan dan nggak suka ngerepotin orang. Sifat yang diturunkan ke anak-anaknya, nggak hanya Ibuk saja tapi juga ke Mbak Itah dan Mbak Uun. Mbah Bangun itu pribadi yang hangat dan “semanak” banget. Jumpa beberapa kali saja rasanya seperti ketemu Budhe sendiri yang sudah kenal lama tapi jarang ketemu. Nah tau kan dari mana sifat semanaknya Bu Ahang itu?

‎Lalu, apa bacaan Ibuk sehingga Ibuk bisa jadi orang seistimewa itu?

‎Kecintaan Ibuk dengan buku mungkin jarang orang tau, tapi sebenarnya memang secinta itu. Bahkan ketika pertama berkhidmat di SD Muhammadiyah Kembaran, yang pertama dipegang adalah perpustakaan. Perpustakaannya jadi bagus dan sangat menarik. 

‎Berinteraksi selama 17 tahun dengan Ibuk, percaya ngga percaya Ibuk cukup mewarnai selera bacaku. Jadi kami ini bukan hanya saudara sepersyarikatan tapi juga saudara seperbukuan. Dari sekian banyak buku yang Ibuk baca dan ceritakan ke aku, ada beberapa yang menurut aku cukup inspiratif.

‎Yang pertama, Sukses Bermuhammadiyah karya Pak Agus Sukaca. Buku yang menurut Ibuk bagus banget inilah yang mungkin mempengaruhi cara Ibuk Bermuhammadiyah. Ibuk ngga keberatan jadi “remahan rengginan di kaleng khong guan” (istilah yang biasa dipakai oleh Ibuk) karena memang sukses berMuhammadiyah itu bukan diukur dari menjabat apa, jadi pembicara apa, menjadi tokoh yang bagaimana. Tapi dalam laku keseharian, kepedulian pada mahluk Tuhan, dan keikhlasan dalam menghidup-hidupi Muhammadiyah.

‎Buku yang menjadi favorit Bu Ahang lainnya adalah The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Selain warisan dari Mbah Bangun, mungkin hati yang hangat dan penuh kasih sayang-nya Bu Ahang juga terinspirasi dari buku ini. Buku ini menginspirasi untuk menghargai hal-hal sederhana yang membawa kebahagiaan, persahabatan dan kasih sayang. Bahwa kebahagiaan tak melulu tentang hal-hal materialistis atau hal-hal yang “wah” lain. Bu Ahang banget kan….

‎Buku ke tiga yang pernah direkomendasikan Bu Ahang adalah Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan, karya Tasaro GK. Dan ternyata memang sebagus itu. Buku ini adalah buku pertama dari tetralogi tentang Nabi Muhammad SAW yang gaya tuturnya berbeda dari buku tentang Rasulullah yang lain. Perkenalan pada buku ini melalui Bu Ahang membawaku ke buku-buku Tasaro GK lain yang seleraku banget seperti Galaksi Kinanthi dan Al Masih.

‎Meski Allah hanya memberi kesempatan kepadaku untuk mengenal dan menjadi saudara Bu Ahang dalam kurun waktu 17 tahun, aku sangat bersyukur masa 17 tahun itu merasakan persaudaraan yang berkualitas. Semoga ini adalah jenis persaudaraan yang kelak akan saling menjadi saksi tentang hal-hal baik yang pernah kami perjuangkan bersama.

‎Sampai jumpa di kehidupan yang lain Ibuk….

‎”𝐾𝑒𝑙𝑎𝑘, ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛𝑖 ℎ𝑎𝑟𝑖-ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑡𝑖𝑚𝑖𝑠𝑚𝑒. 𝑀𝑒𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑙-ℎ𝑎𝑙 ℎ𝑒𝑏𝑎𝑡. 𝑀𝑒𝑛𝑖𝑘𝑚𝑎𝑡𝑖 𝑘𝑒𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑟𝑢. 𝑇𝑒𝑟𝑔𝑒𝑙𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑛 𝑔𝑒𝑚𝑏𝑖𝑟𝑎, 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑖𝑘𝑖𝑟 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝𝑚𝑢 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑝𝑢𝑟𝑛𝑎.

‎𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎, 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑗𝑒𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑏𝑖𝑠𝑢. 𝑆𝑒𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡 𝑚𝑒𝑟𝑖𝑎ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑒𝑛𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑖𝑗𝑎𝑟. 𝐾𝑒𝑡𝑖𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑢𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑔𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑟𝑒𝑡𝑚𝑢 𝑘𝑒 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑙𝑎𝑙𝑢, 𝑤𝑎𝑗𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑛𝑢ℎ𝑖 𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡𝑚𝑢. 𝐵𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑖𝑡 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑎𝑢𝑟𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑈𝑑𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑒𝑠𝑎𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝐵𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑏𝑖𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎. 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖𝑎𝑝𝑙𝑎ℎ….”

‎(Galaksi Kinanthi, Tasaro GK)
‎Foto: Kami dateng pas launching Buku “Muhamad: Para Pengeja Hujan”, buku ke dua dari Tetralogi Muhammad Tasaro GK.
‎Toko Buku Gunung Agung Jogja
‎30 September 2011

‎Foto: Buku Kain yang kubikin untuk Farhan yang inspirasinya dari Ibuk 021024

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top