Aku udah nulis ini beberapa bulan lalu tapi aku rasa relevan untuk kembali diposting karena program makan gratis Prabowo secara bertahap mulai diimplementasikan.
Program makan gratis mungkin menjadi Salah satu (atau satu-satunya?) janji politik Prabowo – Gibran yang diingat masyarakat. Setidaknya 96.214.691 warga Indonesia menganggap ini program bagus sehingga mereka memilih Pak Prab.
Aku pribadi menganggap program itu bagus-bagus aja kalau kita memang mampu baik secara pendanaan ataupun sumber daya lainnya. Tapi sayangnya implementasi awal tidak semanis tiramisu. Pemilihan vendor yang… Yaaa tau sendiri lah. Beberapa vendor penyedia makanan mengeluhkan tunggakan pembayaran sampai mereka harus nalangin. Padahal implementadinya masih sedikit. Apa karena masih uji coba ya jadi kayak gitu.
Seandainya saja ini bukan janji politik, aku lebih setuju di tunda dulu pelaksanaannya. Ngga usah maksa juga harus mulai dirasakan di 100 hari pertama menjabat. Siapin dulu sistemnya, risikonya dimitigasi dengan baik, akuntabilitas dan transparansi termasuk menu dan pemilihan vendor, dan seterusnya. Menurut aku sih beberapa yang penting untuk dipersiapkan sebelum diimplementasikan secara penuh antara lain:
1. Prioritas penerima program
Siapa, atau jika sasarannya adalah sekolah, sekolah seperti apa yang akan diprioritaskan untuk implementasi program ini. Kalau menurut aku program ini cocok diterapkan di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak, misalnya Kabupaten Sabu Raijua dan Sumba Timur yang jumlah penduduk miskinnya lebih dari 28%, atau kabupaten lain yang jumlah penduduk miskin lebih dari 20%. Sehingga meskipun tidak menyasar by name by adress tapi berbasis sekolah, tapi persentase penerima manfaat yang merupakan penduduk miskin lebih mungkin tercapai pada wilayah dengan penduduk miskin yang tinggi. Karena sebenernya wilayah yang memiliki angka kurang gizi dan stunting tinggi itu banyak beririsan dengan wilayah yang jumlah penduduk miskinnya banyak.
2. Standar minimal gizi yang diberikan
Sebelum implementasi harus ada standar minimal gizi yang diterima, at least berapa gram protein yang diberikan (karena orang indonesia biasanya cukup karbo), lalu dikonversi dalam alternatif-alternatif menu pada wilayah masing-masing sesuai kearifan lokal. Jangan lupa perbedaan harga pangan antara wilayah satu dengan yang lain itu sangat tinggi (Mergo Indonesia kegeden lurrrr wkkwkkw). Jadi ngga bisa dipukul rata 15.000 per porsi untuk sekian gram protein. Di sini perencanaan dan penganggaran memainkan peran yang sangat penting. Jangan buru-buru implementasi.
3. Stabilitas Pasar
Salah satu hal yang harus diantisipasi dari pemberian bantuan secara in-kind (barang) adalah stabilitas pasar. Jangan sampai bantuan merusak supply chain wilayah setempat. Apakah pasokan susu dan daging bisa didorong untuk ditingkatkan sehingga bisa merespon kebutuhan yang meningkat akibat program makan siang gratis untuk siswa? Jika perlu intervensi bulog dan kadin untuk memastikan ngga ada shortage karena adanya program ini.
4. Siapa pelaksananya?
Siapa yang bertanggungjawab di sekolah untuk program ini? apakah akan di-hire secara khusus? anggarannya dari mana? Jangan guru lagi guru lagi yang harus ngurusin susu. Ngga semua orang suka ngurus susu kan. Harus ada anggaran operasional supaya tidak dikurangkan di anggaran yang harusnya menjadi menu yang diterima oleh siswa.
5. Sistem Monitoring dan Evaluasi
Ini juga harus dipersiapkan sebelum implementasi. Bagaimana memastikan kualitas maksi yang diterima oleh siswa sudah sesuai dengan yang direncanakan untuk mencapai tujuan perbaikan gizi anak. Bagus jika membuka ruang-ruang evaluasi yang memungkinkan wali murid, masyarakat dan siapa saja memberikan masukan untuk transparansi dan akuntabilitas program. Selain itu, langkah-langkah ketat harus diterapkan untuk mengurangi potensi korupsi dan suap dalam pengadaan dan distribusi makan siang, memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan melayani tujuan yang dimaksud dan mencapai mereka yang membutuhkannya.
6. Penyiapan sarana prasarana di sekolah
Distribusi makanan, tiap hari, itu bukan hal yang sederhana. Perlu dipersiapkan saranana yang mendukung hygiene dan meminimalisir kontaminasi. Apakah program ini akan menjadi program yang menambah volume sampah? Jika mau dibagikan dengan piring dan gelas, apakah sekolah siap ngurus piring dan gelas-gelasnya dan menjaga tetap higienis untuk penggunaan selanjutnya?
7. Komunikasi Publik
Karena ini program unggulan Pak Prabowo, harus terus disampaikan progressnya, capaiannya dll, otherwise, nanti bapaknya dikira ngga menepati janji kampanye.
8. Mitigasi risiko
Yang namanya Kasi makan ke anak orang, risikonya tinggi lho seperti adanya reaksi alergi atau keracunan makanan. Guru di sekolah harus teredukasi apa yang harus mereka lakukan jika terjadi risiko seperti ini.
Selain itu risiko kebocoran anggaran, pemilihan rekanan yang tidak transparan, risiko food waste karena anak ngga suka, ada yang ngga masuk dll.
Meskipun aku tetep kurang setuju dengan program makan siang gratis berbasis sekolah, dan lebih setuju untuk fokus pada rakyat miskin, gizi buruk, stunting dan kerentanan lain, namun aku tetep mendukung segala upaya bangsa ini untuk memerangi kemiskinan, ya seenggaknya minimal dengan memastikan diri sendiri dan anak cucu nanti ngga miskin wkwkwk.
Selamat bekerja Pak Presiden, mohon maaf jika dalam 5 tahun kedepan aku akan banyak nyinyir seperti sebelum sebelumnya wkwkwkwk.
Dalam foto: Nasi bakar Teri, sambel matah, ikan woku, cocok untuk makan siang
070225