KASTA TERTINGGI BUKU BACAAN



‎Di threads lagi rame postingan tentang kasta-kasta buku bacaan. Konon katanya bacaan itu ada kelasnya, dari kelas receh, remeh temeh, sampai kasta tertinggi bacaan yang ngga semua orang sanggup membacanya.

‎Apa iya bacaan itu ada stratanya? Misal kalau bacaanmu Komik Si Juki berarti kamu sekelas presiden. Misal lho ya.

‎Inget dulu ketika muda, ada buku-buku yang dianggap kalo sudah baca itu berarti “maqom”nya udah tinggi dan dianggap pinter dan keren seperti baca novel Max Havelaar karya Multatuli, atau baca buku-bukunya Pram yang saat aku masih muda sedang anget angetnya karena baru diterbitkan kembali setelah dicabut ijin edarnya pada masa Soeharto. Kebetulan aku sendiri tidak termasuk anak muda keren dengan maqom bacaan setinggi itu karena saat muda sampai saat ini seleraku ya sebatas Kungfu Boy, Samurai X, Pansy, Mari Chan dan lain lain. Baca Lord of The Ring saja aku ngga sanggup. Apalagi Eragon. Palingan Harry Potter yang Masih kebaca.

‎Aku termasuk yang kurang setuju kalau bacaan itu berkasta-kasta. Tapi lebih ke soal selera dan apa yang dibutuhkan dari aktivitas membaca. Bagi sebagian orang membaca itu memuaskan rasa ingin tahunya. Dia mencari bacaan yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya. Sebagian orang menjadikan aktivitas membaca itu sebagai cara untuk menepi dari hiruk pikuk dunia. Rekreasi. Hiburan. Bagi sebagian yang lain membaca membantunya berdamai dengan perang yang ada di dalam dirinya sendiri, self help dan self improvement.

‎Ku yakin ngga ada buku sampah. Bahkan Freddy S sekalipun mungkin memberi manfaat bagi beberapa orang. Setiap buku akan menemukan pembaca yang sesuai dan yang membutuhkannya. Makanya aku berusaha banget ngga ngomentarin selera baca orang, meskipun itu anakku sendiri.

‎Maka menurut aku kasta bacaan itu bukan ditentukan dari siapa penulisnya, apakah penerbitnya penerbit besar atau indie, apakah terjual jutaan copy, apakah dicetak ulang berkali kali. Bukan. Tapi lebih ke bagaimana buku itu memberi dampak bagi pembacanya.

‎Lebih tepatnya, yang berkasta kasta bukan bukunya. Tapi dampak dari aktivitas membaca.

‎Kasta terendah dari membaca, marilah kita sebut kasta minus, adalah apabila membaca malah menginspirasi untuk berbuat nista, jahat, menebar kebencian dan fitnah. Membaca buku detektif seperti Sherlock Holmes, bisa menginspirasi orang untuk melakukan modus kejahatan, tapi bisa juga menginspirasi untuk menjadi penegak kebenaran. Bahkan orang membaca Quran pun ada yang dampaknya mengolok-olok agama, baik agama Islam ataupun agama lain, menghighlight ayat-ayat untuk menghina orang ataupun keyakinan.
‎Ada juga yang membaca tapi menghasilkan sifat jumawa, merasa diri keren dan mencela yang tidak membaca sepertinya. Maka apapun yang dibaca jika hanya menghasilkan sikap laku yang toxic, adalah kasta pembaca terendah yang ada di dunia ini.

‎Kasta di atasnya, marilah kita sebut kasta nol. Membaca tapi tak memberi manfaat apapun. Tidak memetik pelajaran apapun. Tidak membuatnya tambah baik. Tidak membuat makin bijak.

‎Di atasnya lagi adalah kasta 1. Kasta membaca buku yang memberi manfaat minimal pada dirinya sendiri. Menjadi luas pengetahuan, menjadi diri yang lebih baik, menjadi semakin bijak. Atau menjadi lebih bahagia dan terhibur.

‎Kasta yang lebih tinggi dan semakin tinggi adalah ketika aktivitas membaca bukan hanya berdampak positif bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang disekitarnya. Semakin banyak yang merasakan dampak positif dari aktivitas membaca seseorang, maka maqom membacanya semakin tinggi.

‎Maka mari kita bukan saja fokus pada buku apa dan sebanyak apa buku yang kita baca. Tapi seberapa berarti dampak positif dari aktivitas membaca kita.

‎Kalau aku, mungkin kasta tertinggi yang pernah aku capai dari aktivitas membaca buku adalah membaca buku nikah, karena implementasi dan konsekwensinya seumur hidup, mengharuskan untuk menjadi diri yang lebih baik, memberikan “purpose” dalam hidup, membuat semangat mengejar impian. Walaupun bukunya kecil dan tipis tapi dampaknya luar biasa dahsyat 😅😅😅

‎Jadi buku apa yang pernah membuat kalian mencapai kasta tertinggi dari membaca yang pernah kalian capai?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top